Penulis: admin

4 Kiat Mengurangi Efek Samping Antibiotik Secara Alami

4 Kiat Mengurangi Efek Samping Antibiotik Secara Alami

Ketika Anda kena infeksi bakteri, minum antibiotik adalah cara yang tepat untuk mengembalikan daya tahan tubuh dengan cara membunuh bakterinya. Sama seperti obat lainnya, antibiotik juga dapat memicu beberapa efek samping yang membuat tubuh tidak terasa nyaman. Hal ini membuat beberapa orang merasa enggan periksa ke dokter dan minum obat antibiotik ketika sedang sakit. Lantas, bagaimana cara mengurangi efek samping antibiotik tersebut? Yuk, simak penjelasannya berikut ini!

Berbagai efek samping antibiotik yang perlu Anda ketahui

Antibiotik termasuk ke dalam golongan obat yang membutuhkan resep dokter. Antibiotik biasa digunakan untuk mengobati infeksi yang disebabkan oleh bakteri seperti radang tenggorokan, bronkitis, pneumonia, dan infeksi saluran kemih.

Selain menyembuhkan penyakit, antibiotik juga dapat menyebabkan beberapa efek samping, di antaranya:

  • Sakit perut
  • Demam
  • Mual
  • Muntah
  • Diare
  • Hilangnya nafsu makan

Pada beberapa kasus, efek samping antibiotik juga dapat berupa timbulnya ruam, batuk, hingga sulit bernapas. Kasus ini sangat jarang terjadi, kemungkinan disebabkan oleh alergi obat. Karena itu, segera konsultasikan pada dokter jika Anda mulai merasakan salah satu atau beberapa efek samping setelah minum antibiotik.

Perlu dicatat juga bahwa tidak semua penyakit membutuhkan antibiotik, misalnya hanya sekadar flu atau pilek. Flu dan pilek adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus sehingga tidak akan efektif jika diobati dengan antibiotik. Bila antibiotik tetap digunakan, maka ini justru akan memicu timbulnya efek samping antibiotik seperti yang sudah disebutkan sebelumnya.

Penggunaan antibiotik yang tidak tepat juga dapat membuat bakteri lebih resistan alias kebal dengan antibiotik. Akibatnya, Anda rentan terkena infeksi yang sama dan lebih susah sembuh di kemudian hari.

Cara alami mengatasi efek samping antibiotik

Jika Anda mulai merasakan salah satu atau beberapa efek samping antibiotik, Anda tidak dianjurkan untuk langsung berhenti minum antibiotik tanpa anjuran dari dokter. Sebab, ini akan membuat penyakit Anda kembali lagi, bahkan lebih kuat dari sebelumnya. Akibatnya, penyakit tersebut akan lebih kebal terhadap antibiotik yang Anda minum sehingga waktu penyembuhannya menjadi lebih lama.

Selain dengan berobat ke dokter, efek samping antibiotik juga dapat diatasi dengan beberapa bahan alami. Nah, cara alami untuk mengatasi efek samping antibiotik adalah sebagai berikut:

1. Suplemen probiotik

suplemen probiotik

Minum antibiotik nyatanya tidak hanya membunuh bakteri penyebab penyakit, tetapi juga menghilangkan bakteri baik dalam usus (probiotik). Padahal, probiotik ini dibutuhkan untuk menjaga sistem pencernaan Anda tetap sehat.

Menurut sebuah penelitian pada tahun 2008, minum suplemen probiotik dapat membantu mencegah masalah pencernaan akibat antibiotik, seperti dilansir dari Very Well. Hal ini turut didukung oleh Dr. Michael Rabovsky dari Cleveland Clinic yang mengungkapkan bahwa probiotik terbukti mampu mencegah diare.

Selain dalam bentuk suplemen, Anda juga bisa mendapatkan asupan probiotik dari makanan yang difermentasi, seperti yogurt dan kefir. Namun, pastikan bahwa obat antibiotik Anda telah habis terlebih dahulu sebelum Anda minum suplemen atau makan makanan yang mengandung probiotik.

2. Teh herbal

minum teh setiap hari

Jika Anda merasa mual setelah minum antibiotik, cobalah untuk minum teh jahe untuk mengurangi efek sampingnya. Kalau Anda tidak suka jahe, pilih teh daun raspberry yang dapat membantu mengobati diare akibat minum antibiotik.

3. Milk thistle

tanaman Blessed Thistle adalah

Obat apa pun yang Anda minum, termasuk antibiotik, umumnya akan diproses oleh hati untuk dipecah. Hal ini membuat organ hati menjadi stres dan penuh dengan racun. Untuk mengatasinya, Anda bisa menetralisir racun di hati dengan milk thistle.

Milk thistle adalah suatu bahan alami yang dapat membantu membersihkan hati dari efek obat-obatan. Herbal yang satu ini dapat mengeluarkan racun dari hati sehingga sistem pencernaan menjadi lebih lancar.

Meski demikian, konsultasikan pada dokter terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk mengonsumsi bahan-bahan alami tersebut.

4. Atur pola makan

pola makan sehat

Redakan efek samping antibiotik dengan mengatur jenis makanan yang dikonsumsi, yaitu dengan perbanyak makan buah-buahan, sayuran, dan sumber protein tanpa lemak. Selain itu, hindari berbagai makanan berminyak seperti gorengan agar tidak memperberat kerja lambung dan menyebabkan sakit perut.

Agar efek samping antibiotik semakin mudah diatasi, jangan lupa untuk selalu menerapkan pola hidup sehat seperti olahraga teratur, istirahat yang cukup, perbanyak minum air putih, dan mengendalikan stres. Dengan demikian, Anda pun lebih mudah untuk mengurangi masalah kesehatan akibat minum antibiotik.

Baca Juga:

  • “Minum Antibiotik Harus Sampai Habis”, Anjuran Minum Obat yang Sudah Basi
  • 6 Bahaya Beli Antibiotik Tanpa Resep Dokter
  • Terlalu Sering Minum Antibiotik? Ini Akibatnya

Sumber

5 Jenis Perawatan Dokter Kulit yang Paling Populer di Indonesia

5 Jenis Perawatan Dokter Kulit yang Paling Populer di Indonesia

Setiap orang ingin memiliki kulit sehat, bersih, dan bebas dari masalah. Sayangnya, banyak orang tidak mau repot untuk merawat kulitnya sendiri. Padahal, merawat kulit penting bagi semua kalangan untuk menjaga kesehatan kulitnya. Berhubung merawat kulit memang bukan pekerjaan mudah dan butuh kesabaran yang tinggi, mengetahui berbagai macam perawatan di dokter kulit beserta manfaatnya adalah hal yang penting.

Simak serba-serbi perawatan di dokter kulit yang paling popular untuk membantu mengatasi masalah kulit Anda dalam artikel ini.

Perawatan di dokter kulit yang paling populer

1. Chemical peeling

Chemical peeling adalah perawatan yang dilakukan untuk mengatasi berbagai masalah kulit seperti kulit kusam, berjerawat, bekas luka, keriput, hingga garis-garis halus di wajah.

Prosedur ini dilakukan dengan cara mengoleskan cairan kimia yang mengandung asam glikolat atau asam trikloroasetat pada kulit. Bahan kimia tersebut berguna untuk mengangkat sel kulit mati sehingga kulit terluar Anda akan mengelupas. Kulit lama yang mengelupas akan digantikan dengan lapisan kulit baru yang lebih muda, lembut, dan cerah di bawahnya.

Efek samping yang dapat muncul dari perawatan ini adalah bila pemilihan jenis cairan peelingnya tidak tepat, sehingga dapat menimbulkan kemerahan atau bekas hiperpigmentasi pada kulit. Oleh sebab itu, selalu konsultasi dulu ke dokter atau spesialis kulit sebelum menjalani prosedur ini.

2. Collagen induction theraphy (microneedling)

Microneedling akhir-akhir ini menjadi salah satu jenis perawatan wajah yang cukup populer di klinik dermatologi. Terapi ini bertujuan untuk memperbaiki tekstur kulit dengan merangsang produksi kolagen dalam kulit, mengatasi keluhan bopeng bekas jerawat, mengurangi kadar minyak pada kulit, mengecilkan pori-pori, dan mencerahkan kulit.

Sebelum memulai prosedur, dokter akan melakukan bius lokal di wajah Anda. Setelah itu, dokter akan menggunakan jarum-jarum halus yang ditusukkan ke kulit. Luka-luka kecil pada kulit wajah Anda kemudian akan merangsang produksi dari elastin dan kolagen yang membantu penyembuhan luka. Nah, kolagen baru inilah yang akan membuat kulit wajah Anda terlihat lebih licin, kencang, dan muda.

Meski terdengar menyeramkan, prosedur ini secara umum aman bila dilakukan oleh ahli dermatologi yang sudah terkualifikasi. Dibanding dengan metode lainnya, microneedling juga memilliki risiko yang lebih kecil seperti kemerahan dan pengelupasan ringan pada beberapa hari awal setelah dilakukan tindakan.

3. Laser

Perawatan di dokter kulit satu ini mungkin sudah tidak asing lagi. Laser sering digunakan untuk meremajakan kulit wajah (mengencangkan, mengecilkan pori atau mengurangi garis kerutan halus), mengatasi jerawat meradang, menghilangkan flek/melasma, menghilangkan tato, atau mengatasi tanda lahir. Laser menghilangkan lapisan kulit mati menggunakan sinar.

Sel-sel kulit baru yang terbentuk selama penyembuhan membuat permukaan kulit Anda lebih kencang dan awet muda. Prosedur ini populer karena efektivitasnya serta prosedurnya yang bebas sakit.

Seperti banyak perawatan di dokter kulit lainnya, prosedur ini juga mungkin akan menimbulkan beberapa efek samping. Meski begitu, efek samping ini biasanya hanya berlangsung sementara dan mudah diatasi seperti rasa hangat pada kulit, kulit memerah, ataupun bengkak.

4. Filler wajah

Filler wajah adalah salah satu perawatan di dokter kulit yang sedang tren. Perawatan ini dilakukan untuk mengisi area-area wajah yang mengalami kekosongan (pipi, pelipis, kantong mata), atau area tertentu yang ingin ditonjolkan atau dipertegas seperti hidung, dagu, rahang. Filler wajah harus dilakukan oleh dokter yang kompeten dan professional, mengingat efek samping yang fatal dapat terjadi bila penyyntikan dilakukan secara sembarangan.

Dokter Anda akan menyuntikan cairan yang mengandung asam hialuronat ke beberapa bagian wajah yang ingin ditonjolkan agar lebih bervolume. Setelah injeksi selesai, Anda mungkin akan mengalami pembengkakan dan kemerahan di area yang disuntik.

Dalam kasus yang jarang, filler wajah dapat menimbulkan efek samping lain, seperti kerusakan jaringan kulit, granuloma/benjolan pada kulit, atau sumbatan pada pembuluh darah yang nantinya akan menyebabkan kematian jaringan kulit. Oleh sebab itu, selalu konsultasi ke dokter kulit dan pertimbangkan segala risiko yang ada sebelum melakukan setiap perawatan kulit.

5. Botox

Perawatan di dokter kulit lainnya yang masih popular sampai saat ini adalah suntik botox. Tidak hanya untuk wanita saja, perawatan satu ini pun banyak digemari oleh kaum pria supaya meningkatkan penampilan serta kepercayaan diri mereka.

Botox digunakan dalam dunia kecantikan kulit untuk mengatasi kerutan pada wajah, atau perawatan untuk mencegah supaya kerutan tidak cepat muncul. Tidak hanya itu, botox juga dilakukan untuk mengatasi beberapa kondisi kesehatan lainnya, seperti migrain kronis, hyperhidrosis, mata kedutan, mata juling, dan lain sebagainya.

Sama halnya dengan filler, suntik botox juga harus dilakukan oleh dokter yang kompeten dan professional untuk menghindari terjadinya efek samping. Meski prosedur ini minim sayatan, bukan berarti botox tidak memiliki efek samping.

Efek samping yang dapat muncul dari perawatan ini antara lain nyeri, kemerahan, serta kebas di daerah suntikkan. Jika prosedur ini tidak dilakukan oleh ahlinya, Anda bisa mengalami efek samping seperti ptosis (tidak bisa membuka mata), alis mata turun, hingga wajah jadi tidak simetris.

Masalah kulit apa saja yang harus segera diperiksakan ke klinik dermatologis?

Apapun masalah kulit Anda, sebaiknya segera dikonsultasikan kepada dokter spesialis kulit dan kelamin (Sp.KK). Dalam banyak kasus, orang lebih sering menunggu keluhannya parah dulu baru memutuskan untuk melakukan perawatan di dokter kulit. Akibatnya, Anda justru membutuhkan waktu lebih lama untuk proses penyembuhan keluhan Anda.

Oleh sebab itu, tidak perlu menunggu keluhan menjadi semakin parah, baru kemudian konsultasi atau berobat. Jika Anda mencurigai sesuatu yang tidak wajar pada kulit Anda, segera konsultasi ke dokter kulit untuk mendapatkan diagnosis yang tepat.

Bila sedang berobat intensif, Anda mungkin akan dianjurkan dokter untuk melakukan berkonsultasi ke dokter setiap 1-2 minggu. Namun bila kondisi sudah membaik dan stabil, cukup 1-2 bulan sekali.

Kenapa setelah berhenti ke dokter masalah kulit saya jadi balik lagi, padahal sudah sempat membaik?

Kesalahan yang paling sering terjadi adalah setelah kondisi kulit membaik dengan perawatan dari dokter kulit, pasien terlena sehingga tidak lanjut merawat kulitnya lagi karena merasa kulitnya sudah lebih baik.

Ketika kulit hanya dibiarkan saja dan tidak dibersihkan serta dilindungi dengan baik, tentu saja masalah yang sama akan kembali lagi. Bahkan mungkin juga bersama dengan keluhan baru. Oleh karena itu, agar masalah kulit Anda tidak kembali lagi, sebaiknya proses perawatan kulit harus dilakukan secara rutin berkelanjutan.

Saat Anda melakukan perawatan di dokter kulit, Anda juga tidak disarankan untuk mengombinasikan produk herbal atau perawatan kulit rumahan. Pasalnya, bisa saja produk herbal yang Anda gunakan justru mengganggu proses perawatan atau pengobatan yang sedang Anda jalani di dokter kulit. Akibatnya, perawatan Anda pun jadi tidak maksimal.

Bagaimana tips memilih klinik dermatologi yang aman dan cocok untuk kita?

Pastikan klinik dermatologis yang akan Anda datangi memang benar-benar dipegang atau ditangani oleh seorang dokter spesialis kulit dan kelamin (Sp.KK) yang berkompeten dan telah berdertifikat. Bukan “dokter” yang mengatasnamakan diri sebagai dokter kulit. Dengan begitu, dokter Anda akan menyesuaikan perawatan yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan Anda.

Baca Juga:

  • Jerawat Parah, Harus ke Dokter Kulit Atau Bisa Diobati Sendiri?
  • 5 Cara Menghilangkan Bekas Jerawat Paling Populer di Dokter Kulit
  • Benarkah Krim Muka dari Dokter Kulit Bisa Bikin Ketagihan?

Sumber

4 Gerakan Sederhana untuk Mengencangkan Payudara yang Kendur

4 Gerakan Sederhana untuk Mengencangkan Payudara yang Kendur

Banyak hal yang membuat payudara kendur, seperti saat pascapersalinan, payudara yang tadinya besar ketika hamil dan kembali mengecil setelah melahirkan. Perubahan alami ini dapat menurunkan elastisitas kulit sehingga membuat payudara Anda tampak kendur. Meski begitu Anda bisa mendapatkan kembali payudara yang kencang dengan perubahan gaya hidup seperti olahraga. Tak sulit kok, begini gerakan olahraga yang bisa Anda lakukan untuk mengencangkan payudara.

Gerakan latihan untuk mengencangkan payudara

Untuk mengencangkan payudara kembali, tak harus melakukan operasi dengan mengeluarkan biaya yang mahal. Olahraga dapat membantu Anda untuk tetap menjaga bentuk payudara tetap menarik.

Lakukan latihan kekuatan untuk membangun otot pektoralis mayor, yaitu otot yang membentuk dada dan terletak dibawah payudara. Otot pektoralis yang lebih besar dapat membantu mendorong jaringan payudara ke depan dan memadatkan kulit payudara, sehingga membuat payudara tampak lebih kencang dan padat.

Berikut latihan sederhana untuk mengencangkan payudara yang bisa Anda praktikkan.

1. Dumbbell bench press

sumber: Women’s Health

Berbaring lurus di bangku, pegang dumbel di masing-masing tangan Anda (A). Turunkan dumbel hingga mendekati sisi dada Anda (B). Lalu kembali ke posisi awal, dan ulangi sebanyak 10 kali.

2. Push up

sumber: Women’s Health

Ada beberapa jenis push up yang dapat menguatkan otot-otot yang menopang payudara. Jika Anda bisa, lakukan push up dalam posisi plank, tapi jika tidak lakukan push up di lutut Anda. Push up umumnya dilakukan dengan membengkokkan dan menahan lengan Anda di siku saat berada di lutut atau di ujung jari-jari kaki Anda dalam posisi plank.

Cara melakukan push up yaitu mulai dengan posisi merangkak, telapak tangan sedikit lebih lebar dari bahu, kaki saling berdekatan. Tubuh Anda harus membentuk garis lurus dari kepala hingga ujung kaki (A).

Turunkan tubuh Anda ke bawah sampai dada hampir menyentuh lantai. Pertahankan lengan atas Anda pada sudut 45 derajat ke tubuh Anda (B). Istirahat sebentar, lalu dorong kembali ke posisi awal. Lakukan push up sebanyak 10 kali dan istirahat selama 90 detik.

3. Incline dumbbell bench press

sumber: Women’s Health

Duduklah di bangku yang bisa diatur ketinggiannya, sekitar 15-30 derajat dan letakkan kaki Anda lurus di lantai. Pegang dua dumbel dan pegang di atas bahu Anda, dengan lengan lurus (A). Perlahan turunkan dumbel ke sisi dada Anda (B). Lalu tekan dumbel kembali ke arah langit-langit. Lakukan gerakan ini sebanyak 10 kali.

4. Dumbbell fly

sumber: Women’s Health

Lakukan gerakan ini dengan berbaring menghadap ke atas bangku datar dengan kaki Anda rata di lantai. Pegang sepasang dumbel di atas bahu Anda dengan siku sedikit ditekuk (A).

Pertahankan sedikit lekukan di siku Anda, turunkan beban sampai siku Anda bahkan sampai dada Anda (B). Pertahankan siku yang sama di siku saat Anda menekan beban kembali. Lakukan gerakan ini sebanyak 10 kali, dengan istirahat 90 detik.

Baca Juga:

  • Perawatan Payudara Saat Hamil Hingga Menjelang Melahirkan
  • Kelebihan dan Kekurangan Payudara Besar dari Sisi Kesehatan
  • Payudara Kendur Setelah Menyusui, Kenapa Bisa?

Sumber

6 Cara Mudah untuk Menurunkan Kadar Insulin Dalam Tubuh

6 Cara Mudah untuk Menurunkan Kadar Insulin Dalam Tubuh

Insulin berperan penting dalam menyeimbangkan kadar gula darah dalam tubuh Anda. Namun, ketika suatu kondisi menyebabkan produksi insulin dalam tubuh meningkat melebih jumlah yang seharusnya, maka ada kemungkinan timbulnya lonjakan gula darah yang tinggi. Anda pun berisiko terserang diabetes tipe 2. Lantas, bagaimana cara menurunkan kadar insulin dalam tubuh agar tetap stabil?

Cara menurunkan kadar insulin dalam tubuh

1. Coba diet rendah karbohidrat

Dari tiga macam zat gizi makro yang Anda makan yaitu karbohidrat, protein dan, lemak, karbohidrat yang menyumbang gula paling banyak bagi tubuh. Salah satu cara bila Anda ingin menurunkan kadar insulin dalam tubuh adalah dengan menerapkan diet rendah karbohidrat. Pasalnya, asupan gula yang rendah dari sumber karbohidrat secara tidak langsung akan menurunkan kadar insulin dalam tubuh Anda.

Banyak penelitian yang juga telah membenarkan hal ini. Bahkan orang dengan kondisi resistensi insulin dalam tubuhnya seperti sindrom metabolik dan sindrom ovarium polikistik (PCOS) berhasil menurunkan kadar insulin dalam tubuhnya berkat diet rendah karbohidrat.

Menurut penelitian dari American Oil Chemists Society, diet rendah karbohidrat mampu menurunkan kadar insulin lebih rendah, yakni sekitar 50 persen daripada dengan diet rendah lemak yang hanya bisa menurunkan kadar insulin hingga 19 persen.

2. Pilih makanan dengan kadar indeks glikemik yang rendah

Melakukan diet rendah karbohidrat bukan berarti Anda benar-benar menghilangkan sumber gula dari makanan sehari-hari karena gula masih berguna sebagai sumber energi pada tubuh. Maka itu, coba pilah-pilah makanan apa saja yang bisa menjaga kadar gula darah tetap rendah. Pasalnya, makanan ini juga yang bisa membantu menjaga kadar insulin dalam tubuh tetap stabil.

Makanan yang bisa membantu menstabilkan kadar insulin, dikenal sebagai makanan dengan nilai indeks glikemik (IG) rendah. Beberapa contohnya seperti buah alpukat, apel, jeruk, wortel, bawang putih, selai kacang, dan cuka.

3. Olahraga rutin

Mungkin cara untuk menurunkan kadar insulin yang satu ini sudah sering Anda dengar. Ya, olahraga yang rutin dilakukan nyatanya memang ampuh untuk menurun kadar insulin dalam tubuh Anda. Penelitian dari American Geriatrics Society juga meyakini bahwa olahraga aerobik sangat efektif untuk mengoptimalkan kerja insulin pada orang yang memiliki obesitas ataupun diabetes tipe 2.

Terlebih jika Anda mengombinasikan olahraga aerobik ini dengan latihan ketahanan. Jenis latihan tersebut akan semakin menstabilkan kadar insulin dalam tubuh Anda.

4. Perbanyak konsumsi serat larut air

Ada banyak manfaat yang Anda peroleh dengan makan makanan yang mengandung serat larut air, seperti membantu menurunkan kadar gula darah dan berat badan. Serat larut air adalah salah satu jenis serat yang mudah dicerna tubuh, karena sesuai namanya, serat ini larut dalam air. Serat jenis ini akan menyerap air dan kemudian berubah bentuk menjadi gel.

Dengan makan sumber serat larut air, tubuh akan merasa lebih kenyang sehingga kadar gula darah dan insulin juga tetap terjaga dengan baik. Sebuah penelitian yang dilansir dari laman Healthline menemukan bahwa wanita yang makan banyak makanan sumber serat larut air memiliki kadar insulin yang lebih rendah daripada wanita yang mengonsumsi serat larut air dalam jumlah sedikit.

Tak hanya itu, serat larut air juga berguna untuk memberi makan bakteri baik yang hidup di dalam usus besar Anda, sehingga bisa meningkatkan kesehatan usus dan menjaga kadar insulin dalam tubuh.

5. Hindari gaya hidup sedenter

Cara lain yang bisa dengan mudah Anda lakukan demi menurunkan kadar insulin yakni dengan meninggalkan gaya hidup sedenter alias malas gerak.

Tidak harus dengan cara yang sulit, Anda bisa meluangkan waktu untuk berjalan-jalan santai dalam frekuensi yang cukup sering. Cara ini disinyalir lebih baik dibandingkan jika Anda hanya duduk diam dalam waktu yang lama.

Sebuah studi yang dilakukan selama 12 minggu menemukan bahwa kadar insulin dalam tubuh wanita yang berjalan kaki selama 20 menit setelah makan lebih cepat turun, dibandingkan wanita yang tidak berjalan kaki usai makan. Selain berguna untuk menurunkan kadar insulin, berjalan kaki juga bermanfaat untuk menurunkan lemak tubuh sehingga membuat Anda terlihat lebih bugar.

6. Minum teh hijau

Menurut penelitian dari Diabetes and Metabolism Journal pada tahun 2013, seseorang yang minum teh hijau setiap hari memiliki risiko diabetes tipe 2 lebih rendah dibandingkan seseorang yang minum kurang dari satu cangkir teh hijau dalam seminggu.

Diabetes disebabkan oleh tingginya kadar gula dalam darah akibat resistensi insulin pada tubuh. Maka secara tidak langsung, teh hijau berpengaruh pada penurunan resistensi insulin yang akan membantu mencegah munculnya diabetes tipe 2.

Hal ini diperkuat dengan sebuah penelitian yang menyatakan bahwa kadar insulin yang tinggi pada sekelompok orang secara berangsur-angsur semakin menurun setelah rutin minum teh hijau selama 12 bulan.

Baca Juga:

  • Ini yang Terjadi Kalau Insulin Disuntik di Bagian Tubuh yang Salah
  • Kapan Penderita Diabetes Sebaiknya Mulai Pakai Insulin?
  • Manfaat Pare untuk Diabetes: Jaga Gula Darah Tetap Stabil dan Cegah Resistensi Insulin

Sumber

Psst, Gerakan Ini Bisa Bikin Wanita Orgasme Lebih Cepat dan Dahsyat

Psst, Gerakan Ini Bisa Bikin Wanita Orgasme Lebih Cepat dan Dahsyat

Faktanya, wanita cenderung lebih sulit orgasme saat berhubungan seks daripada pria. Entah karena kurang pengalaman soal orgasme, sibuk memikirkan hal lainnya, atau terlalu mementingkan kepuasan pasangannya. Namun, penelitian baru-baru ini menemukan bahwa ada gerakan tertentu yang bisa membantu merangsang orgasme wanita lebih hebat dan bergairah. Hal ini berhubungan dengan sentuhan, gerakan, dan variasi bercinta. Lantas, gerakan seperti apa yang bisa memicu orgasme wanita? Temukan jawabannya lewat artikel ini.

Menurut para ahli, rangsangan klitoris yang tepat bisa mendorong orgasme wanita

Agar wanita mencapai orgasme, pria sering kali melakukan teknik pemanasan atau foreplay sebelum bercinta. Biasanya, para pria memfokuskan aktivitas seksual pada bagian vagina, khususnya klitoris. Ya, klitoris dikenal sebagai salah satu bagian sensitif wanita karena memiliki ujung saraf yang lebih banyak daripada bagian tubuh manapun.

Sebuah penelitian yang diterbitkan pada Journal of Sex and Marital Therapy menunjukkan bahwa rangsangan pada klitoris dapat memicu wanita orgasme lebih cepat. Para ahli mencoba menggali informasi mengenai seberapa banyak sentuhan yang dibutuhkan wanita untuk mencapai orgasme dan cara apa yang berhasil membawa tubuhnya mencapai puncak kenikmatan.

Hasilnya, sebanyak 37 persen wanita usia 18 sampai 94 tahun membutuhkan rangsangan klitoris agar mencapai orgasme.

Para wanita menyukai jenis sentuhan yang berbeda-beda di organ intimnya untuk mencapai orgasme. Sebab, wanita lebih suka mengeksplor tubuhnya dengan berbagai sentuhan dari pasangan untuk bisa mencapai puncak kenikmatan. Ketika ditanya soal teknik rangsangan yang disukai, sebanyak 63 persen wanita mengaku lebih mudah terangsang saat pasangannya memberikan gerakan naik turun pada klitorisnya, sedangkan 52 persen wanita lebih menyukai gerakan memutar pada klitorisnya hingga mencapai orgasme.

Meski demikian, kebanyakan wanita mengaku lebih menyukai rangsangan lembut di daerah vulva (bagian terluar vagina) ketimbang klitoris secara langsung. Sekitar 29 persen wanita mengatakan lebih mudah terangsang saat pasangannya mengulum seluruh bagian klitorisnya; 20 persen wanita menyukai rangsangan pada sisi kanan klitoris; dan 19,2 persennya menyukai rangsangan pada sisi kiri klitoris.

memalsukan orgasme

Ada lagi yang bisa membantu wanita orgasme lebih cepat

Karena wanita cenderung tidak mudah mencapai orgasme, Anda perlu memberikan sensasi baru tiap kali bercinta. Pasalnya, para ahli mengungkapkan bahwa wanita lebih mudah terangsang dengan teknik yang berbeda-beda saat berhubungan seksual. Jadi, sudah menjadi tugas Anda untuk membantunya mencapai kepuasan bercinta.

Bila Anda hanya terpaku pada penetrasi saat berhubungan seksual dan mengharapkan pasangan Anda lebih cepat orgasme, maka Anda salah besar. Pasalnya, peneliti asal Chapman University mengungkapkan bahwa terdapat tiga kunci emas untuk memancing wanita orgasme dengan lebih cepat, di antaranya rangsangan genital, berciuman, dan seks oral.

Seks oral tak hanya dibutuhkan oleh pria, tetapi juga wanita. Bahkan, seks oral dapat membuat wanita orgasme lebih cepat hingga sepuluh kali lipat ketimbang hanya dengan penetrasi. Terlebih bila Anda melakukan kombinasi tiga kunci emas tadi, maka Anda akan lebih mudah merangsang orgasme wanita dan membuatnya terpuaskan.

Namun, ini juga harus diimbangi dengan komunikasi yang baik antara Anda berdua. Dengan komunikasi yang intim dan jelas, Anda dan pasangan bisa saling mengarahkan, ke bagian tubuh mana yang ingin dipuaskan, mana yang ingin disentuh, dan gerakan mana yang disukai atau tidak disukai.

Baca Juga:

  • Betulkah Wanita Lebih Susah Orgasme Daripada Pria? Apa Sebabnya?
  • 7 Cara Mencapai Multiorgasme Saat Seks (untuk Wanita)
  • Bisakah Wanita Orgasme Hanya Dengan Merangsang Payudara?

Sumber

Kenapa Ada Orang yang Sangat Takut Akan Mati?

Kenapa Ada Orang yang Sangat Takut Akan Mati?

Tidak ada yang tahu kapan dan bagaimana kematian akan datang menghampiri. Namun yang pasti, semua orang akan mati pada akhirnya. Sedikit merasa takut akan mati adalah hal yang wajar, karena tidak ada yang tahu tentang masa depan. Yang tidak wajar adalah merasa amat sangat takut mati sampai-sampai stres dan mengurung diri agar tidak celaka atau terkena penyakit.

Tanatophobia, ketika seseorang sangat takut mati

Mengkhawatirkan kesehatan adalah hal yang wajar. Dengan begitu, Anda akan belajar untuk bisa menjaga diri lebih baik lagi — baik dengan makan makanan sehat, berolahraga rutin, dan lebih berhati-hati dalam beraktivitas agar tidak cedera.

Mencemaskan keselamatan diri sendiri juga membantu Anda memperhitungkan setiap langkah yang harus dilakukan dalam hidup sekaligus mempersiapkan diri terhadap segala kemungkinan terburuk, misalnya ketika menghadapi bencana alam.

Begitu pula dengan rasa duka dan kesedihan yang melanda hati setelah ditinggal pergi selamanya oleh orang terkasih. Berduka melatih Anda agar bisa menjadi pribadi yang lebih dewasa dan tangguh menghadapi hidup.

Meski begitu, segelintir orang di dunia ini bisa merasakan ketakutan yang amat sangat terhadap kematian atau proses kematiannya itu sendiri. Ketakutan tidak wajar inilah yang disebut sebagai tanatophobia, alias fobia kematian.

Thanatophobia tidak secara resmi diakui oleh American Psychiatric Association sebagai gangguan psikologi. Meski begitu, stres dan kecemasan berat yang mungkin diakibatkannya sering dikaitkan dengan gangguan kecemasan umum.

kematian pada remaja
Ilustrasi jenazah FOTO/SHUTTERSTOCK

Kenapa ada orang yang sangat takut mati?

Fobia itu sendiri adalah sebuah gangguan psikologis yang ditandai dengan rasa ketakutan ekstrem dan tidak masuk akal. Tidak seperti rasa takut pada umumnya, fobia biasanya berkaitan dengan satu hal yang spesifik.

Selain itu, rasa takut biasa pada umumnya hanya berlangsung sebentar dan bisa mereda segera setelah pemicunya menghilang. Berbeda dengan fobia. Anda mungkin tahu dan menyadari bahwa ketakutan Anda tidak masuk akal, tapi Anda tetap tidak bisa mengendalikan perasaan tersebut.

Tidak diketahui pasti apa yang menyebabkan fobia. Namun, rasa takut mati yang berlebihan bisa dipicu oleh beberapa faktor tertentu. Misalnya, pengalaman masa lalu yang traumatis. Seseorang bisa memiliki ketakutan ekstrem terhadap kematian apabila mereka pernah mengalami situasi yang mengancam nyawa atau hampir menyebabkan kematian, seperti bencana alam, kecelakaan, atau penyakit — baik pada diri sendiri maupun orang terdekatnya.

Tanatophobia juga bisa dipicu oleh faktor religi alias keagamaan. Hampir semua ajaran agama pasti mengajarkan mengenai kehidupan setelah mati, seperti kehidupan di surga dan neraka. Beberapa orang dengan thanatophobia mengalami kekhawatiran yang berlebihan mengenai kehidupan setelah mati, karena tidak tahu apa yang akan terjadi saat itu.

Apa saja faktor risiko thanatophobia?

Orang-orang dewasa muda lebih berisiko memiliki tanatophobia daripada orang-orang lanjut usia. Kecemasan berlebih terhadap kematian biasanya mulai nampak terjadi di usia 20-an. Pada wanita, ketakutan ekstrem ini bisa terus berlanjut hingga usia 50-an.

Selain itu, orang-orang yang memiliki banyak masalah kesehatan serius juga lebih mungkin mengalami kecemasan berlebihan seputar masa depan hidupnya.

penyebab kematian remaja

Apa tanda orang memiliki rasa takut mati berlebihan?

Sama seperti fobia lainnya, tanda dan gejala tanatophobia tidak hadir setiap saat. Anda mungkin baru menyadari tanda-tandanya ketika Anda mulai berpikir tentang kematian Anda atau orang yang Anda cintai. Bahkan, memikirkan pemicu fobianya pun bisa membuat Anda sangat stres dan keringat dingin.

Gejala yang paling umum dari kondisi psikologis ini termasuk:

  • Sering mengalami serangan panik
  • Merasa amat sangat cemas
  • Pusing
  • Berkeringat
  • Detak jantung tidak teratur
  • Mual
  • Sakit perut
  • Sensitivitas terhadap suhu panas atau dingin

Selain gejala fisik, tanatophobia juga bisa menyebabkan gejala emosional, seperti:

  • Menutup diri dari lingkungan
  • Menghindari teman dan keluarga untuk jangka waktu yang lama
  • Marah
  • Merasa sedih berlebihan
  • Mudah tersinggung
  • Merasa bersalah
  • Rasa khawatir terus-menerus

Adakah yang bisa dilakukan untuk mengatasi thanatophobia?

Fokus perawatan untuk tanatophobia adalah untuk mengurangi ketakutan dan kecemasan berlebihan Anda akan kematian. Terapi bisa termasuk sesi konsultasi dengan psikolog, terapi perilaku kognitif (CBT), teknik relaksasi untuk meredakan kecemasannya, hingga penggunaan obat-obatan resep dokter jika dirasa perlu.

Anda juga mungkin menjalani kombinasi terapi fobia dari beberapa pilihan di atas. Untuk mengetahui perawatan mana yang tepat untuk kondisi Anda, konsultasikan lebih lanjut dengan dokter.

Baca Juga:

  • Mysophobia, Bukan Sekadar Jijik Menyentuh Benda Kotor
  • Genophobia, Kondisi yang Membuat Seseorang Takut Berhubungan Seks
  • Mengenal Claustrophobia, Rasa Takut Akan Ruang Sempit
  • Terapi Kognitif dan Perilaku, Konseling untuk Berbagai Masalah Psikologi

Sumber

Mungkinkah Benda-Benda di Rumah Anda Berpotensi Sebabkan Kanker?

Mungkinkah Benda-Benda di Rumah Anda Berpotensi Sebabkan Kanker?

Peralatan rumah tangga yang Anda anggap bersih ternyata menyimpan berbagai bahan kimia yang bisa memicu timbulnya gangguan kesehatan. Sebuah penelitian dari Journal Environmental Science and Technology menunjukkan bahwa setidaknya ada satu jenis bahan kimia yang tersembunyi dalam setiap peralatan rumah tangga dan benda-benda di rumah. Hal ini yang kemudian bisa berpotensi mengganggu kesehatan, salah satunya menyebabkan kanker.

Mungkinkah benda-benda di rumah menyebabkan kanker?

Sebetulnya sampai saat ini para ahli belum menemukan penyebab pasti dari kanker. Kanker terjadi ketika sel-sel sehat yang ada dalam tubuh manusia bermutasi (berubah) menjadi sel kanker yang lantas merusak organ tubuh tempat sel tersebut berada. Bila tidak diobati, sel tersebut bisa menyebar dan menyerang organ tubuh lainnya.

Perubahan sel sehat menjadi sel kanker ini bisa dipicu oleh berbagai hal. Di antaranya adalah faktor genetik (keturunan), paparan radiasi atau zat kimia berbahaya, dan pola hidup yang tidak sehat. Akan tetapi, dalam beberapa kasus, orang yang sehat dan tidak punya keturunan kanker pun bisa saja tiba-tiba didiagnosis kanker.

Lalu bagaimana dengan benda-benda di rumah yang terbuat dari berbagai macam bahan kimiawi? Apa mungkin benda-benda dan peralatan rumah tangga menyebabkan kanker? Nah, sebenarnya barang-barang di rumah mungkin tidak secara langsung menyebabkan kanker, melainkan memicunya. Apalagi jika Anda sendiri sudah memiliki faktor-faktor risiko kanker lain seperti keturunan atau pola hidup tidak sehat.

Beberapa barang dan alat di rumah mungkin ada yang mengandung bahan kimia yang tergolong karsinogen (penyebab kanker), tapi kandungannya sangat sedikit hingga risikonya tidak terlalu besar. Lagipula, biasanya sudah ada aturan dan standar khusus dalam penggunaan bahan kimia karsinogen untuk produk-produk rumah tangga.

Meski begitu, tak ada salahnya untuk mencermati barang-barang dan peralatan apa saja di rumah Anda yang mungkin berpotensi menyebabkan kanker.

1. Pakaian dan sepatu

Mencium Baju Pasangan

Jika sebagian besar pakaian yang Anda gunakan dicuci dengan teknik dry cleaning (mencuci kering), waspada akan kandungan perchlorethylene di dalamnya. Bahan kimia perchlorethylene, atau yang biasa disebut dengan tetrachloroethylene, merupakan zat yang dapat digunakan untuk mengeringkan kain atau bahan. Kandungan perchlorethylene juga bisa Anda temukan pada semir sepatu dan pembersih kayu.

Perchlorethylene bisa dengan mudah masuk ke tubuh manusia melalui penguapan ke udara, kemudian terhirup oleh pernapasan. Sebuah penelitian dari American Cancer Society menemukan bahwa paparan tinggi perchlorethylene bisa meningkatkan risiko terserang kanker sel darah putih (leukimia) dan kanker paru.

Namun, sekali lagi risiko kanker tersebut baru muncul bila Anda terpapar bahan tersebut dalam jumlah sangat banyak dan sering, misalnya pada pekerja laundry. Untuk menghindari risikonya, gunakan masker saat mencuci dan menjemur baju atau saat menyemir sepatu.

2. Taman rumah

Zat kimia yang berada di tanah banyak memiliki kandungan dioksin di dalamnya. Dioksin merupakan zat karsinogenik, yang bisa dengan mudah ditemukan pada residu tanaman, debu pada peralatan rumah tangga, maupun kotoran di lantai.

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), dioksin merupakan zat beracun yang berbahaya bagi kesehatan, yang pada akhirnya bisa mengganggu fungsi hati, sistem kekebalan tubuh, sistem endokrin, dan sistem saraf. Bahkan, para pakar kesehatan juga membenarkan bahwa paparan dioksin yang tinggi bisa menyebabkan kanker.

3. Styrofoam

Bahan rumah tangga lainnya yang diduga bisa meningkatkan risiko kanker adalah penggunaan styrofoam. Styrofoam sering dijadikan wadah makanan atau minuman karena praktis. Namun, styrofoam mengandung bahan kimia benzene dan styrene yang telah terbukti dapat menyebabkan kanker.

Kedua bahan kimia ini bisa dengan mudah merembes ke dalam minuman ataupun makanan panas yang menggunakan wadah styrofoam. Badan kesehatan dunia (WHO), membenarkan bahwa benzene dan styrene merupakan zat kimia yang bersifat karsinogenik, yakni bisa memicu tumbuhnya sel kanker dalam tubuh.

4. Sofa

Selepas bepergian, ketika sampai di rumah biasanya Anda akan mencari tempat peristirahatan yang paling empuk dan nyaman. Salah satunya sofa. Tanpa disadari, sayangnya sofa favorit Anda mungkin berpotensi menyebabkan kanker.

Pasalnya, beberapa mebel seperti sofa, kasur, matras, dan benda-benda empuk lainnya dibuat dari bahan TDCIPP. Bahan TDCIPP merupakan bahan anti-api yang diketahui bisa memicu timbulnya kanker karena sifatnya yang karsinogenik.

Tenang, bukan berarti Anda tidak boleh duduk di sofa dan tidur di atas kasur Anda. Selama Anda tidak terpapar bahan-bahan tersebut dalam dosis tinggi seperti di pabriknya, Anda masih aman. Penggunaan bahan tersebut juga sudah diatur dan dibatasi sehingga kadarnya tetap aman bagi kesehatan konsumen.

5. Cairan pembersih

Cairan pembersih rumah tangga seperti cairan pencuci piring; detergen; dan pembersih karpet, maupun beberapa barang lainnya di rumah Anda yakni alat-alat kosmetik dan cat, banyak mengandung bahan kimia formaldehid.

Formaldehid adalah bahan kimia yang tidak berwarna, baunya yang kuat, dan mudah terbakar. Bahan ini memang banyak ditemukan dalam berbagai produk rumah tangga.

Dilansir dari laman National Cancer Institute, formaldehid diyakini sebagai zat karsinogen bagi manusia, terlebih bila paparannya terjadi dalam jangka waktu yang cukup lama. Maka, banyak penelitian yang menyatakan bahwa paparan formaldehid berpotensi untuk menyebabkan kanker jenis tertentu.

Untuk menghindari bahaya bahan kimia ini, selalu gunakan sarung tangan dan masker ketika Anda ingin membersihkan rumah dengan produk-produk pembersih tersebut.

6. Lantai vinyl

Lantai vinyl yang mungkin Anda gunakan sebagai alas di dalam rumah mengandung bahan kimia bernama phtalates. Phtalates biasa digunakan untuk menguatkan daya tahan plastik. Sebenarnya bukan hanya pada lantai vinyl saja, phtalates juga bisa ditemukan pada tirai kamar mandi, wallpaper, penutup jendela, taplak meja, dan benda rumah tangga apa pun yang terbuat dari PVC vinyl.

Jika tubuh terpapar phtalates dalam jumlah banyak, sistem endokrin yang mengatur hormon dalam tubuh akan terganggu. Hal ini dikaitkan dengan risiko kanker payudara, gangguan pertumbuhan, serta masalah kesuburan.

Cara untuk mencegah paparan bahan kimia

Ada beberapa cara tepat yang bisa Anda lakukan untuk menurunkan risiko paparan berbagai bahan kimia tersebut pada peralatan rumah tangga, yaitu:

  • Periksa label kandungan bahan sebelum Anda memutuskan untuk membeli suatu produk.
  • Rutin membersihkan peralatan rumah tangga Anda. Sebab, kadang peralatan yang terlihat bersih pun tetap mengandung debu dan bakteri yang tak kasat mata.
  • Pastikan untuk selalu mencuci tangan setelah selesai beraktivitas ataupun menyentuh dan memegang berbagai macam benda.
  • Styrofoam sebaiknya tidak dipakai berulang kali, tidak digunakan untuk memanaskan makanan, dan tidak dipakai sebagai wadah makanan atau minuman yang panas.

Baca Juga:

  • Wajan Teflon yang Tergores Bisa Bikin Kanker?
  • Bagaimana Bisa Bahan Kimia di Rumah Anda Bikin Berat Badan Naik?
  • Berapa Kali Harus Membersihkan Peralatan Rumah Tangga?

Sumber

Bukannya Hilang, Selulit Makin Parah Setelah Olahraga, Kok Bisa?

Bukannya Hilang, Selulit Makin Parah Setelah Olahraga, Kok Bisa?

Memiliki tubuh yang ideal adalah keinginan banyak orang. Sayangnya, keinginan tersebut lenyap ketika Anda bercermin; selulit menghiasi bokong, paha, dan juga lengan Anda. Permukaan kulit yang bergelombang ini tentu membuat Anda gemas untuk menghilangkannya. Nah, salah satu cara yang efektif untuk mengusir selulit adalah olahraga rutin. Namun setelah Anda berolahraga, justru selulit makin parah.

Bagaimana bisa hal tersebut terjadi? Jangan cemas, simak ulasan berikut supaya Anda bisa mengusir selulit dengan benar.

Kenapa olahraga malah membuat selulit makin parah?

Selulit adalah permukaan kulit bergelombang atau berkerut yang sering muncul pada bokong, paha, dan juga lengan. Kondisi ini mungkin cukup mengganggu bagi sebagian orang. Tenang saja, ada banyak cara yang bisa Anda tempuh untuk menghilangkan selulit.

Cara mudahnya yaitu mengurangi makanan berlemak dan tinggi karbohidrat dan menambah asupan sayur dan buah. Sedangkan cara yang cukup menantang tapi efektif yaitu berolahraga, seperti latihan angkat beban atau kardio. Keduanya terbukti bisa menyingkirkan selulit karena berat badan menjadi turun dan sirkulasi darah menjadi lebih lancar. Maka, penyimpanan lemak di permukaan kulit lebih terkendali.

Sayangnya, ada beberapa orang yang tidak mendapatkan manfaat tersebut. Mereka malah mengeluh karena selulit makin parah setelah olahraga. Bagaimana bisa, ya?

Jawabannya ada pada penelitian yang dilakukan oleh Dr. Wayne Wescott, seperti dilansir dari Live Strong. Wescott menjelaskan bahwa olahraga seperti angkat beban atau latihan kardio bisa mengurangi munculnya selulit. Ketika selulit menjadi lebih buruk setelah berolahraga, kemungkinan ada faktor lain yang terjadi selama Anda melakukan aktivitas tersebut, yaitu dehidrasi.

penyebab dehidrasi

Kenapa dehidrasi saat olahraga bisa bikin selulit tambah parah?

Selulit awalnya terbentuk dari jaringan ikat fibrosa yang menghubungkan kulit ke otot di bawahnya menjadi tertarik ke bawah. Sel-sel lemak yang menumpuk di antara kulit dan struktur yang lebih dalam inilah yang menyebabkan adanya dorongan pada jaringan ikat fibrosa, hingga akhirnya selulit terlihat di permukaan kulit.

Saat Anda berolahraga, cairan yang ada ada tubuh akan terus berkurang. Jika cairan tubuh tidak tergantikan, suhu tubuh semakin meningkat. Padahal, salah satu fungsi air dalam tubuh adalah menjaga keseimbangan suhu tubuh. Lambat laun, jika Anda tidak segera mengganti cairan tubuh yang hilang tersebut, risiko dehidrasi menjadi sangat besar.

Saat dehidrasi terjadi, sel-sel lemak di kulit naik ke atas permukaan kulit. Inilah sebabnya muncul kulit bergelombang atau kulit mengkerut. Bila Anda memiliki selulit dan mengalami dehidrasi setelah berolahraga, maka tidak aneh kondisi tersebut membuat selulit makin parah.

Jadi harus bagaimana?

Untuk menghilangkan selulit dengan olahraga tanpa risiko dehidrasi, itu artinya Anda harus sering minum air. Selalu sempatkan diri untuk istirahat dan minum air, baik sebelum, selama, atau sesudah olahraga. Bawalah air minum cadangan agar Anda tidak kekurangan cairan, apalagi jika Anda melakukan olahraga di luar ruangan saat cuaca panas.

Selain minum air, Anda juga bisa mengganti kebutuhan cairan Anda dari buah-buahan. Sempatkanlah untuk makan buah-buahan di sela waktu istirahat. Selain segar, makan buah juga bisa membuat Anda memiliki cadangan energi dan tetap bugar setelah olahraga.

Penting untuk mengetahui apa saja tanda-tanda bila tubuh Anda kekurangan cairan. Muncul rasa lelah, denyut nadi tinggi, dan ada bagian tubuh yang terasa kram, bisa menjadi gejala dehidrasi. Bila Anda mengalami gejala-gejala tersebut, segera penuhi kebutuhan cairan Anda dan berteduhlah di tempat yang sejuk.

Baca Juga:

  • 4 Gerakan Olahraga Menggunakan Foam Roller untuk Singkirkan Selulit
  • Penyebab Munculnya Selulit dan Cara Menghilangkannya
  • Scrub Kopi untuk Mencerahkan Kulit dan Menghilangkan Selulit

Sumber

Usia Berapa Pertumbuhan Payudara Saat Remaja Akan Berhenti?

Usia Berapa Pertumbuhan Payudara Saat Remaja Akan Berhenti?

Salah satu ciri pubertas pada anak perempuan adalah berubahnya ukuran dan bentuk payudara. Payudara akan mengalami perubahan dalam tiga tahap, yaitu ketika pubertas, kehamilan, dan menopause. Pertumbuhan payudara tersebut terjadi untuk mendukung fungsi payudara sebagai sumber produksi air susu ibu (ASI) nantinya.

Perkembangan payudara terjadi pertama kali saat anak memasuki masa pubertas. Pada saat itu, perubahan payudara menandakan kematangan seksual anak. Kemudian, payudara akan mengalami perkembangan lagi saat hamil, yaitu saat tubuh mempersiapkan persediaan kelenjar susu untuk menyusui bayi. Lalu, tahap perubahan payudara yang terakhir terjadi saat wanita mengalami menopause.

Saat payudara tumbuh di usia remaja, tentu ukurannya tidak akan terus berkembang sampai masa kehamilan terjadi. Ada jeda waktu yang membuat payudara berhenti tumbuh. Nah, kapan payudara pada remaja akan berhenti tumbuh? Yuk, cari tahu jawabannya pada ulasan berikut.

Tahap perkembangan dan kisaran usia berhentinya pertumbuhan payudara pada remaja

Perkembangan payudara pada setiap anak dimulai pada usia yang berbeda-beda. Ada yang mengalami perubahan payudara lebih cepat, normal, dan juga lebih lambat. Bila diperkirakan, perkembangan tersebut terjadi ketika anak berusia 8-13 tahun.

Pada usia tersebut, ovarium (indung telur) mulai memproduksi sekaligus melepaskan hormon estrogen, yaitu hormon yang penting untuk perkembangan seksual dan reproduksi. Adanya hormon tersebut membuat lemak dalam jaringan ikat mulai berkumpul pada dinding toraks anterior. Inilah yang menyebabkan ukuran payudara membesar.

Namun, perkembangan payudara tersebut akan berhenti ketika masa pubertas berakhir. Dilansir dari Live Strong, biasanya pubertas berhenti ketika perempuan memasuki usia awal 20-an atau sekitar usia 17-18 tahun.

Perkembangan payudara ditandai dengan bagian tengah payudara dan berwarna lebih gelap dibanding sekitarnya yang mulai naik. Bagian itu disebut dengan puting susu, yaitu tempat keluarnya ASI ketika menyusui. Pada awalnya, puting susu akan terasa lebih lunak. Namun, seiring waktu akan mengeras dan terbentuk benjolan di bawah puting.

Selain puting, ada juga yang disebut dengan areola. Bagian tersebut mengelilingi puting dan berwarna lebih terang. Seiring bertambah besarnya ukuran payudara, areola juga mulai melebar. Selain itu, kelenjar susu mulai terbentuk dan bermuara di puting susu.

Pada tahap ini, besarnya ukuran payudara sebelah kanan mungkin tidak sama dengan payudara sebelah kiri. Jangan khawatir, ukuran payudara yang berbeda ini normal terjadi. Setelah satu tahun atau lebih, ukuran payudara akan sama atau hampir sama dan areola akan terangkat lebih naik sehingga puting menjadi lebih menonjol. Kemudian, bentuk payudara juga semakin bulat menandakan bahwa payudara sudah terbentuk sempurna. Tahapan ini menunjukkan bahwa proses perkembangan payudara pada remaja sudah berhenti.

Beragam faktor yang memengaruhi pertumbuhan payudara saat remaja

Kondisi tubuh yang sehat memengaruhi pertumbuhan payudara pada remaja. Pada beberapa kasus, pertumbuhan payudara bisa menjadi lebih lambat. Maka dari itu, pola makan yang buruk akan menyebabkan pertumbuhan payudara tertunda. Jika Anda mengalami kekurangan vitamin dan nutrisi lainnya, hormon estrogen menjadi lebih sedikit diproduksi dan lebih lambat untuk dilepaskan dari ovarium. Kondisi ini masih diatasi dengan mengonsumsi makanan pendukung pertumbuhan hormon estrogen.

Selain nutrisi, riwayat keluarga juga memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan payudara. Jadi, bila ibu, tante, atau saudara perempuan Anda memiliki ukuran payudara yang kecil, kemungkinan payudara Anda juga berukuran tak jauh beda.

Baca Juga:

  • Mengenal Anatomi Payudara Wanita dan Masing-Masing Fungsinya
  • Perawatan Payudara Saat Hamil Hingga Menjelang Melahirkan
  • 8 Penyebab Stretch Mark Pada Payudara, dan Cara Mengatasinya

Sumber

Kita Tetap Harus Cek Gula Darah Meski Tak Diabetes, Tapi di Usia Berapa?

Kita Tetap Harus Cek Gula Darah Meski Tak Diabetes, Tapi di Usia Berapa?

Periksa gula darah secara rutin penting dilakukan untuk mencegah penyakit diabetes. Pasalnya, tidak semua orang mengalami gejala diabetes sehingga sering kali tidak disadari sudah mencapai tahap komplikasi diabetes. Semakin cepat Anda memeriksakan gula darah, maka semakin cepat pula Anda mengurangi risiko terkena diabetes. Lantas, kapan harus mulai cek gula darah? Apakah harus dari usia anak-anak? Semua jawabannya ada pada ulasan berikut ini.

Usia berapa sebaiknya kita harus mulai cek gula darah?

Menurut Jay Cohen, MD, asisten profesor klinis dari University of Tennessee, dilansir dari Everyday Health, orang dengan diabetes tipe 2 biasanya tidak menyadari telah terkena diabetes selama tiga sampai empat tahun lebih.

Jika tidak segera ditangani, ini tentu akan memicu terjadinya komplikasi diabetes yang semakin membahayakan kesehatan. Nah, hal ini bisa dicegah lebih awal dengan mulai cek gula darah dan skrining sedini mungkin.

Untuk menentukan usia yang tepat mulai cek gula darah, Anda perlu memperhatikan berbagai faktor risiko yang bisa membuat Anda lebih mudah terkena diabetes, di antaranya:

  • Kelebihan berat badan atau obesitas
  • Terdapat anggota keluarga yang terkena diabetes (orangtua atau saudara kandung)
  • Malas gerak atau kurang aktivitas fisik
  • Pernah mengalami diabetes saat hamil atau melahirkan bayi besar (lebih dari empat kilogram)
  • Riwayat hipertensi atau kolesterol tinggi
  • Mengalami PCOS

Jika Anda mengalami salah satu atau lebih kondisi tersebut, itu artinya Anda berisiko tinggi terkena diabetes. Terlebih bila Anda berusia 45 tahun ke atas, American Diabetes Association (ADA) merekomendasikan Anda untuk rutin melakukan skrining diabetes setiap tiga tahun sekali.

Terlepas dari usianya, yang terpenting adalah melihat seberapa besar Anda berisiko terkena diabetes, termasuk pada anak-anak Anda. Pasalnya, diabetes kini bukan lagi dianggap sebagai penyakit orang dewasa semenjak mulai banyak anak-anak yang mengalami kelebihan berat badan dan obesitas akibat gaya hidup yang tidak sehat.

ADA dan American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan bagi anak-anak yang mengalami kelebihan berat badan atau berisiko tinggi terkena diabetes untuk segera menjalani cek gula darah rutin mulai usia 10 tahun atau saat pubertas sebelum berusia 10 tahun. Semakin cepat melakukan cek gula darah, maka semakin cepat pula anak-anak mampu mencegah kemungkinan terkena diabetes saat dewasa nanti.

Jika Anda sudah memiliki alat cek gula darah di rumah, Anda bisa melakukan pemeriksaan ini secara mandiri untuk Anda dan anak Anda. Lakukan cek gula darah sebelum Anda maupun anak Anda makan, sebelum tidur, jika merasa tubuh kurang sehat, atau menunjukkan tanda-tanda gula darah terlalu tinggi atau terlalu rendah. Bila Anda tidak yakin dengan hasilnya, maka segera konsultasikan ke dokter untuk melakukan tes skrining.

Seperti apa prosedur cek gula darah yang harus dilakukan?

Ada dua tes sederhana yang bisa Anda lakukan untuk cek gula darah, di antaranya:

1. Tes puasa glukosa

Sebelum menjalani tes ini, Anda diharuskan untuk berpuasa selama delapan jam terlebih dahulu. Tingkat gula darah normal setelah berpuasa adalah di bawah 100 miligram per desiliter (mg/dL). Bila kadar glukosa darah Anda antara 100 sampai 125 mg/dL, maka ini mengindikasikan pradiabetes. Artinya, Anda perlu melakukan cek gula darah ulang untuk memastikan apakah Anda positif mengidap diabetes atau tidak.

2. Toleransi glukosa oral (TTGO)

Oral glucose tolerance test (OGTT) atau tes toleransi glukosa oral adalah tes yang berfungsi untuk mengukur kemampuan glukosa sebagai sumber energi utama dalam tubuh. Cek gula darah yang satu ini berfungsi untuk mendiagnosis pradiabetes dan diabetes, terutama diabetes saat hamil (diabetes gestasional).

Sebelum menjalani TTGO, Anda dianjurkan untuk minum larutan manis dua jam sebelum sampel darah diambil. Bila hasil tes menunjukkan angka 200 mg/dL atau lebih, maka Anda perlu melakukan cek gula darah ulang untuk memastikan bahwa Anda menderita diabetes.

Baca Juga:

  • Sebaiknya Berapa Kali Cek Gula Darah Dalam Sehari?
  • Ketika Gula Darah Meningkat Sedikit di Atas Normal, Haruskah Khawatir?
  • 3 Jenis Cek Gula Darah dan Cara Membaca Hasil Tesnya

Sumber