Penulis: admin

Mungkinkah Benda-Benda di Rumah Anda Berpotensi Sebabkan Kanker?

Mungkinkah Benda-Benda di Rumah Anda Berpotensi Sebabkan Kanker?

Peralatan rumah tangga yang Anda anggap bersih ternyata menyimpan berbagai bahan kimia yang bisa memicu timbulnya gangguan kesehatan. Sebuah penelitian dari Journal Environmental Science and Technology menunjukkan bahwa setidaknya ada satu jenis bahan kimia yang tersembunyi dalam setiap peralatan rumah tangga dan benda-benda di rumah. Hal ini yang kemudian bisa berpotensi mengganggu kesehatan, salah satunya menyebabkan kanker.

Mungkinkah benda-benda di rumah menyebabkan kanker?

Sebetulnya sampai saat ini para ahli belum menemukan penyebab pasti dari kanker. Kanker terjadi ketika sel-sel sehat yang ada dalam tubuh manusia bermutasi (berubah) menjadi sel kanker yang lantas merusak organ tubuh tempat sel tersebut berada. Bila tidak diobati, sel tersebut bisa menyebar dan menyerang organ tubuh lainnya.

Perubahan sel sehat menjadi sel kanker ini bisa dipicu oleh berbagai hal. Di antaranya adalah faktor genetik (keturunan), paparan radiasi atau zat kimia berbahaya, dan pola hidup yang tidak sehat. Akan tetapi, dalam beberapa kasus, orang yang sehat dan tidak punya keturunan kanker pun bisa saja tiba-tiba didiagnosis kanker.

Lalu bagaimana dengan benda-benda di rumah yang terbuat dari berbagai macam bahan kimiawi? Apa mungkin benda-benda dan peralatan rumah tangga menyebabkan kanker? Nah, sebenarnya barang-barang di rumah mungkin tidak secara langsung menyebabkan kanker, melainkan memicunya. Apalagi jika Anda sendiri sudah memiliki faktor-faktor risiko kanker lain seperti keturunan atau pola hidup tidak sehat.

Beberapa barang dan alat di rumah mungkin ada yang mengandung bahan kimia yang tergolong karsinogen (penyebab kanker), tapi kandungannya sangat sedikit hingga risikonya tidak terlalu besar. Lagipula, biasanya sudah ada aturan dan standar khusus dalam penggunaan bahan kimia karsinogen untuk produk-produk rumah tangga.

Meski begitu, tak ada salahnya untuk mencermati barang-barang dan peralatan apa saja di rumah Anda yang mungkin berpotensi menyebabkan kanker.

1. Pakaian dan sepatu

Mencium Baju Pasangan

Jika sebagian besar pakaian yang Anda gunakan dicuci dengan teknik dry cleaning (mencuci kering), waspada akan kandungan perchlorethylene di dalamnya. Bahan kimia perchlorethylene, atau yang biasa disebut dengan tetrachloroethylene, merupakan zat yang dapat digunakan untuk mengeringkan kain atau bahan. Kandungan perchlorethylene juga bisa Anda temukan pada semir sepatu dan pembersih kayu.

Perchlorethylene bisa dengan mudah masuk ke tubuh manusia melalui penguapan ke udara, kemudian terhirup oleh pernapasan. Sebuah penelitian dari American Cancer Society menemukan bahwa paparan tinggi perchlorethylene bisa meningkatkan risiko terserang kanker sel darah putih (leukimia) dan kanker paru.

Namun, sekali lagi risiko kanker tersebut baru muncul bila Anda terpapar bahan tersebut dalam jumlah sangat banyak dan sering, misalnya pada pekerja laundry. Untuk menghindari risikonya, gunakan masker saat mencuci dan menjemur baju atau saat menyemir sepatu.

2. Taman rumah

Zat kimia yang berada di tanah banyak memiliki kandungan dioksin di dalamnya. Dioksin merupakan zat karsinogenik, yang bisa dengan mudah ditemukan pada residu tanaman, debu pada peralatan rumah tangga, maupun kotoran di lantai.

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), dioksin merupakan zat beracun yang berbahaya bagi kesehatan, yang pada akhirnya bisa mengganggu fungsi hati, sistem kekebalan tubuh, sistem endokrin, dan sistem saraf. Bahkan, para pakar kesehatan juga membenarkan bahwa paparan dioksin yang tinggi bisa menyebabkan kanker.

3. Styrofoam

Bahan rumah tangga lainnya yang diduga bisa meningkatkan risiko kanker adalah penggunaan styrofoam. Styrofoam sering dijadikan wadah makanan atau minuman karena praktis. Namun, styrofoam mengandung bahan kimia benzene dan styrene yang telah terbukti dapat menyebabkan kanker.

Kedua bahan kimia ini bisa dengan mudah merembes ke dalam minuman ataupun makanan panas yang menggunakan wadah styrofoam. Badan kesehatan dunia (WHO), membenarkan bahwa benzene dan styrene merupakan zat kimia yang bersifat karsinogenik, yakni bisa memicu tumbuhnya sel kanker dalam tubuh.

4. Sofa

Selepas bepergian, ketika sampai di rumah biasanya Anda akan mencari tempat peristirahatan yang paling empuk dan nyaman. Salah satunya sofa. Tanpa disadari, sayangnya sofa favorit Anda mungkin berpotensi menyebabkan kanker.

Pasalnya, beberapa mebel seperti sofa, kasur, matras, dan benda-benda empuk lainnya dibuat dari bahan TDCIPP. Bahan TDCIPP merupakan bahan anti-api yang diketahui bisa memicu timbulnya kanker karena sifatnya yang karsinogenik.

Tenang, bukan berarti Anda tidak boleh duduk di sofa dan tidur di atas kasur Anda. Selama Anda tidak terpapar bahan-bahan tersebut dalam dosis tinggi seperti di pabriknya, Anda masih aman. Penggunaan bahan tersebut juga sudah diatur dan dibatasi sehingga kadarnya tetap aman bagi kesehatan konsumen.

5. Cairan pembersih

Cairan pembersih rumah tangga seperti cairan pencuci piring; detergen; dan pembersih karpet, maupun beberapa barang lainnya di rumah Anda yakni alat-alat kosmetik dan cat, banyak mengandung bahan kimia formaldehid.

Formaldehid adalah bahan kimia yang tidak berwarna, baunya yang kuat, dan mudah terbakar. Bahan ini memang banyak ditemukan dalam berbagai produk rumah tangga.

Dilansir dari laman National Cancer Institute, formaldehid diyakini sebagai zat karsinogen bagi manusia, terlebih bila paparannya terjadi dalam jangka waktu yang cukup lama. Maka, banyak penelitian yang menyatakan bahwa paparan formaldehid berpotensi untuk menyebabkan kanker jenis tertentu.

Untuk menghindari bahaya bahan kimia ini, selalu gunakan sarung tangan dan masker ketika Anda ingin membersihkan rumah dengan produk-produk pembersih tersebut.

6. Lantai vinyl

Lantai vinyl yang mungkin Anda gunakan sebagai alas di dalam rumah mengandung bahan kimia bernama phtalates. Phtalates biasa digunakan untuk menguatkan daya tahan plastik. Sebenarnya bukan hanya pada lantai vinyl saja, phtalates juga bisa ditemukan pada tirai kamar mandi, wallpaper, penutup jendela, taplak meja, dan benda rumah tangga apa pun yang terbuat dari PVC vinyl.

Jika tubuh terpapar phtalates dalam jumlah banyak, sistem endokrin yang mengatur hormon dalam tubuh akan terganggu. Hal ini dikaitkan dengan risiko kanker payudara, gangguan pertumbuhan, serta masalah kesuburan.

Cara untuk mencegah paparan bahan kimia

Ada beberapa cara tepat yang bisa Anda lakukan untuk menurunkan risiko paparan berbagai bahan kimia tersebut pada peralatan rumah tangga, yaitu:

  • Periksa label kandungan bahan sebelum Anda memutuskan untuk membeli suatu produk.
  • Rutin membersihkan peralatan rumah tangga Anda. Sebab, kadang peralatan yang terlihat bersih pun tetap mengandung debu dan bakteri yang tak kasat mata.
  • Pastikan untuk selalu mencuci tangan setelah selesai beraktivitas ataupun menyentuh dan memegang berbagai macam benda.
  • Styrofoam sebaiknya tidak dipakai berulang kali, tidak digunakan untuk memanaskan makanan, dan tidak dipakai sebagai wadah makanan atau minuman yang panas.

Baca Juga:

  • Wajan Teflon yang Tergores Bisa Bikin Kanker?
  • Bagaimana Bisa Bahan Kimia di Rumah Anda Bikin Berat Badan Naik?
  • Berapa Kali Harus Membersihkan Peralatan Rumah Tangga?

Sumber

Bukannya Hilang, Selulit Makin Parah Setelah Olahraga, Kok Bisa?

Bukannya Hilang, Selulit Makin Parah Setelah Olahraga, Kok Bisa?

Memiliki tubuh yang ideal adalah keinginan banyak orang. Sayangnya, keinginan tersebut lenyap ketika Anda bercermin; selulit menghiasi bokong, paha, dan juga lengan Anda. Permukaan kulit yang bergelombang ini tentu membuat Anda gemas untuk menghilangkannya. Nah, salah satu cara yang efektif untuk mengusir selulit adalah olahraga rutin. Namun setelah Anda berolahraga, justru selulit makin parah.

Bagaimana bisa hal tersebut terjadi? Jangan cemas, simak ulasan berikut supaya Anda bisa mengusir selulit dengan benar.

Kenapa olahraga malah membuat selulit makin parah?

Selulit adalah permukaan kulit bergelombang atau berkerut yang sering muncul pada bokong, paha, dan juga lengan. Kondisi ini mungkin cukup mengganggu bagi sebagian orang. Tenang saja, ada banyak cara yang bisa Anda tempuh untuk menghilangkan selulit.

Cara mudahnya yaitu mengurangi makanan berlemak dan tinggi karbohidrat dan menambah asupan sayur dan buah. Sedangkan cara yang cukup menantang tapi efektif yaitu berolahraga, seperti latihan angkat beban atau kardio. Keduanya terbukti bisa menyingkirkan selulit karena berat badan menjadi turun dan sirkulasi darah menjadi lebih lancar. Maka, penyimpanan lemak di permukaan kulit lebih terkendali.

Sayangnya, ada beberapa orang yang tidak mendapatkan manfaat tersebut. Mereka malah mengeluh karena selulit makin parah setelah olahraga. Bagaimana bisa, ya?

Jawabannya ada pada penelitian yang dilakukan oleh Dr. Wayne Wescott, seperti dilansir dari Live Strong. Wescott menjelaskan bahwa olahraga seperti angkat beban atau latihan kardio bisa mengurangi munculnya selulit. Ketika selulit menjadi lebih buruk setelah berolahraga, kemungkinan ada faktor lain yang terjadi selama Anda melakukan aktivitas tersebut, yaitu dehidrasi.

penyebab dehidrasi

Kenapa dehidrasi saat olahraga bisa bikin selulit tambah parah?

Selulit awalnya terbentuk dari jaringan ikat fibrosa yang menghubungkan kulit ke otot di bawahnya menjadi tertarik ke bawah. Sel-sel lemak yang menumpuk di antara kulit dan struktur yang lebih dalam inilah yang menyebabkan adanya dorongan pada jaringan ikat fibrosa, hingga akhirnya selulit terlihat di permukaan kulit.

Saat Anda berolahraga, cairan yang ada ada tubuh akan terus berkurang. Jika cairan tubuh tidak tergantikan, suhu tubuh semakin meningkat. Padahal, salah satu fungsi air dalam tubuh adalah menjaga keseimbangan suhu tubuh. Lambat laun, jika Anda tidak segera mengganti cairan tubuh yang hilang tersebut, risiko dehidrasi menjadi sangat besar.

Saat dehidrasi terjadi, sel-sel lemak di kulit naik ke atas permukaan kulit. Inilah sebabnya muncul kulit bergelombang atau kulit mengkerut. Bila Anda memiliki selulit dan mengalami dehidrasi setelah berolahraga, maka tidak aneh kondisi tersebut membuat selulit makin parah.

Jadi harus bagaimana?

Untuk menghilangkan selulit dengan olahraga tanpa risiko dehidrasi, itu artinya Anda harus sering minum air. Selalu sempatkan diri untuk istirahat dan minum air, baik sebelum, selama, atau sesudah olahraga. Bawalah air minum cadangan agar Anda tidak kekurangan cairan, apalagi jika Anda melakukan olahraga di luar ruangan saat cuaca panas.

Selain minum air, Anda juga bisa mengganti kebutuhan cairan Anda dari buah-buahan. Sempatkanlah untuk makan buah-buahan di sela waktu istirahat. Selain segar, makan buah juga bisa membuat Anda memiliki cadangan energi dan tetap bugar setelah olahraga.

Penting untuk mengetahui apa saja tanda-tanda bila tubuh Anda kekurangan cairan. Muncul rasa lelah, denyut nadi tinggi, dan ada bagian tubuh yang terasa kram, bisa menjadi gejala dehidrasi. Bila Anda mengalami gejala-gejala tersebut, segera penuhi kebutuhan cairan Anda dan berteduhlah di tempat yang sejuk.

Baca Juga:

  • 4 Gerakan Olahraga Menggunakan Foam Roller untuk Singkirkan Selulit
  • Penyebab Munculnya Selulit dan Cara Menghilangkannya
  • Scrub Kopi untuk Mencerahkan Kulit dan Menghilangkan Selulit

Sumber

Usia Berapa Pertumbuhan Payudara Saat Remaja Akan Berhenti?

Usia Berapa Pertumbuhan Payudara Saat Remaja Akan Berhenti?

Salah satu ciri pubertas pada anak perempuan adalah berubahnya ukuran dan bentuk payudara. Payudara akan mengalami perubahan dalam tiga tahap, yaitu ketika pubertas, kehamilan, dan menopause. Pertumbuhan payudara tersebut terjadi untuk mendukung fungsi payudara sebagai sumber produksi air susu ibu (ASI) nantinya.

Perkembangan payudara terjadi pertama kali saat anak memasuki masa pubertas. Pada saat itu, perubahan payudara menandakan kematangan seksual anak. Kemudian, payudara akan mengalami perkembangan lagi saat hamil, yaitu saat tubuh mempersiapkan persediaan kelenjar susu untuk menyusui bayi. Lalu, tahap perubahan payudara yang terakhir terjadi saat wanita mengalami menopause.

Saat payudara tumbuh di usia remaja, tentu ukurannya tidak akan terus berkembang sampai masa kehamilan terjadi. Ada jeda waktu yang membuat payudara berhenti tumbuh. Nah, kapan payudara pada remaja akan berhenti tumbuh? Yuk, cari tahu jawabannya pada ulasan berikut.

Tahap perkembangan dan kisaran usia berhentinya pertumbuhan payudara pada remaja

Perkembangan payudara pada setiap anak dimulai pada usia yang berbeda-beda. Ada yang mengalami perubahan payudara lebih cepat, normal, dan juga lebih lambat. Bila diperkirakan, perkembangan tersebut terjadi ketika anak berusia 8-13 tahun.

Pada usia tersebut, ovarium (indung telur) mulai memproduksi sekaligus melepaskan hormon estrogen, yaitu hormon yang penting untuk perkembangan seksual dan reproduksi. Adanya hormon tersebut membuat lemak dalam jaringan ikat mulai berkumpul pada dinding toraks anterior. Inilah yang menyebabkan ukuran payudara membesar.

Namun, perkembangan payudara tersebut akan berhenti ketika masa pubertas berakhir. Dilansir dari Live Strong, biasanya pubertas berhenti ketika perempuan memasuki usia awal 20-an atau sekitar usia 17-18 tahun.

Perkembangan payudara ditandai dengan bagian tengah payudara dan berwarna lebih gelap dibanding sekitarnya yang mulai naik. Bagian itu disebut dengan puting susu, yaitu tempat keluarnya ASI ketika menyusui. Pada awalnya, puting susu akan terasa lebih lunak. Namun, seiring waktu akan mengeras dan terbentuk benjolan di bawah puting.

Selain puting, ada juga yang disebut dengan areola. Bagian tersebut mengelilingi puting dan berwarna lebih terang. Seiring bertambah besarnya ukuran payudara, areola juga mulai melebar. Selain itu, kelenjar susu mulai terbentuk dan bermuara di puting susu.

Pada tahap ini, besarnya ukuran payudara sebelah kanan mungkin tidak sama dengan payudara sebelah kiri. Jangan khawatir, ukuran payudara yang berbeda ini normal terjadi. Setelah satu tahun atau lebih, ukuran payudara akan sama atau hampir sama dan areola akan terangkat lebih naik sehingga puting menjadi lebih menonjol. Kemudian, bentuk payudara juga semakin bulat menandakan bahwa payudara sudah terbentuk sempurna. Tahapan ini menunjukkan bahwa proses perkembangan payudara pada remaja sudah berhenti.

Beragam faktor yang memengaruhi pertumbuhan payudara saat remaja

Kondisi tubuh yang sehat memengaruhi pertumbuhan payudara pada remaja. Pada beberapa kasus, pertumbuhan payudara bisa menjadi lebih lambat. Maka dari itu, pola makan yang buruk akan menyebabkan pertumbuhan payudara tertunda. Jika Anda mengalami kekurangan vitamin dan nutrisi lainnya, hormon estrogen menjadi lebih sedikit diproduksi dan lebih lambat untuk dilepaskan dari ovarium. Kondisi ini masih diatasi dengan mengonsumsi makanan pendukung pertumbuhan hormon estrogen.

Selain nutrisi, riwayat keluarga juga memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan payudara. Jadi, bila ibu, tante, atau saudara perempuan Anda memiliki ukuran payudara yang kecil, kemungkinan payudara Anda juga berukuran tak jauh beda.

Baca Juga:

  • Mengenal Anatomi Payudara Wanita dan Masing-Masing Fungsinya
  • Perawatan Payudara Saat Hamil Hingga Menjelang Melahirkan
  • 8 Penyebab Stretch Mark Pada Payudara, dan Cara Mengatasinya

Sumber

Kita Tetap Harus Cek Gula Darah Meski Tak Diabetes, Tapi di Usia Berapa?

Kita Tetap Harus Cek Gula Darah Meski Tak Diabetes, Tapi di Usia Berapa?

Periksa gula darah secara rutin penting dilakukan untuk mencegah penyakit diabetes. Pasalnya, tidak semua orang mengalami gejala diabetes sehingga sering kali tidak disadari sudah mencapai tahap komplikasi diabetes. Semakin cepat Anda memeriksakan gula darah, maka semakin cepat pula Anda mengurangi risiko terkena diabetes. Lantas, kapan harus mulai cek gula darah? Apakah harus dari usia anak-anak? Semua jawabannya ada pada ulasan berikut ini.

Usia berapa sebaiknya kita harus mulai cek gula darah?

Menurut Jay Cohen, MD, asisten profesor klinis dari University of Tennessee, dilansir dari Everyday Health, orang dengan diabetes tipe 2 biasanya tidak menyadari telah terkena diabetes selama tiga sampai empat tahun lebih.

Jika tidak segera ditangani, ini tentu akan memicu terjadinya komplikasi diabetes yang semakin membahayakan kesehatan. Nah, hal ini bisa dicegah lebih awal dengan mulai cek gula darah dan skrining sedini mungkin.

Untuk menentukan usia yang tepat mulai cek gula darah, Anda perlu memperhatikan berbagai faktor risiko yang bisa membuat Anda lebih mudah terkena diabetes, di antaranya:

  • Kelebihan berat badan atau obesitas
  • Terdapat anggota keluarga yang terkena diabetes (orangtua atau saudara kandung)
  • Malas gerak atau kurang aktivitas fisik
  • Pernah mengalami diabetes saat hamil atau melahirkan bayi besar (lebih dari empat kilogram)
  • Riwayat hipertensi atau kolesterol tinggi
  • Mengalami PCOS

Jika Anda mengalami salah satu atau lebih kondisi tersebut, itu artinya Anda berisiko tinggi terkena diabetes. Terlebih bila Anda berusia 45 tahun ke atas, American Diabetes Association (ADA) merekomendasikan Anda untuk rutin melakukan skrining diabetes setiap tiga tahun sekali.

Terlepas dari usianya, yang terpenting adalah melihat seberapa besar Anda berisiko terkena diabetes, termasuk pada anak-anak Anda. Pasalnya, diabetes kini bukan lagi dianggap sebagai penyakit orang dewasa semenjak mulai banyak anak-anak yang mengalami kelebihan berat badan dan obesitas akibat gaya hidup yang tidak sehat.

ADA dan American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan bagi anak-anak yang mengalami kelebihan berat badan atau berisiko tinggi terkena diabetes untuk segera menjalani cek gula darah rutin mulai usia 10 tahun atau saat pubertas sebelum berusia 10 tahun. Semakin cepat melakukan cek gula darah, maka semakin cepat pula anak-anak mampu mencegah kemungkinan terkena diabetes saat dewasa nanti.

Jika Anda sudah memiliki alat cek gula darah di rumah, Anda bisa melakukan pemeriksaan ini secara mandiri untuk Anda dan anak Anda. Lakukan cek gula darah sebelum Anda maupun anak Anda makan, sebelum tidur, jika merasa tubuh kurang sehat, atau menunjukkan tanda-tanda gula darah terlalu tinggi atau terlalu rendah. Bila Anda tidak yakin dengan hasilnya, maka segera konsultasikan ke dokter untuk melakukan tes skrining.

Seperti apa prosedur cek gula darah yang harus dilakukan?

Ada dua tes sederhana yang bisa Anda lakukan untuk cek gula darah, di antaranya:

1. Tes puasa glukosa

Sebelum menjalani tes ini, Anda diharuskan untuk berpuasa selama delapan jam terlebih dahulu. Tingkat gula darah normal setelah berpuasa adalah di bawah 100 miligram per desiliter (mg/dL). Bila kadar glukosa darah Anda antara 100 sampai 125 mg/dL, maka ini mengindikasikan pradiabetes. Artinya, Anda perlu melakukan cek gula darah ulang untuk memastikan apakah Anda positif mengidap diabetes atau tidak.

2. Toleransi glukosa oral (TTGO)

Oral glucose tolerance test (OGTT) atau tes toleransi glukosa oral adalah tes yang berfungsi untuk mengukur kemampuan glukosa sebagai sumber energi utama dalam tubuh. Cek gula darah yang satu ini berfungsi untuk mendiagnosis pradiabetes dan diabetes, terutama diabetes saat hamil (diabetes gestasional).

Sebelum menjalani TTGO, Anda dianjurkan untuk minum larutan manis dua jam sebelum sampel darah diambil. Bila hasil tes menunjukkan angka 200 mg/dL atau lebih, maka Anda perlu melakukan cek gula darah ulang untuk memastikan bahwa Anda menderita diabetes.

Baca Juga:

  • Sebaiknya Berapa Kali Cek Gula Darah Dalam Sehari?
  • Ketika Gula Darah Meningkat Sedikit di Atas Normal, Haruskah Khawatir?
  • 3 Jenis Cek Gula Darah dan Cara Membaca Hasil Tesnya

Sumber

Amankah Eksfoliasi untuk Menghilangkan Sel Kulit Mati?

Amankah Eksfoliasi untuk Menghilangkan Sel Kulit Mati?

Setiap hari Anda menghasilkan jutaan sel kulit mati. Bila tidak dibersihkan, akan terjadi penumpukan di kulit. Tentu ini bisa mengganggu kesehatan kulit Anda. Untuk itu, ada perawatan khusus yang bertujuan untuk menghilangkan sel kulit mati, yaitu eksfoliasi. Nah, benarkah eksfoliasi itu baik untuk kulit? Yuk, cari tahu jawabannya pada ulasan berikut.

Menghilangkan sel kulit mati berarti menjaga keseimbangan kulit

Kulit secara alami membuang lapisan kulit terluar setiap sebulan sekali. Proses alami tersebut menyebabkan adanya sel-sel pada kulit akan mati setiap harinya. Namun sering bertambahnya usia, pengelupasan kulit menjadi semakin melambat sehingga bisa membuat kulit Anda menjadi kering, bersisik, dan gatal.

Melakukan eksfoliasi atau menghilangkan sel kulit mati berarti membantu kulit untuk mempercepat proses pengelupasan serta membantu meringankan beberapa kondisi kulit. Itulah sebabnya eksfoliasi menjadi salah satu perawatan yang baik untuk kulit.

Ada dua cara melakukan eksfoliasi. Pertama, secara fisik dengan sikat atau scrub untuk mengangkat sel kulit mati. Kemudian cara kedua dilakukan secara kimia dengan mengoleskan asam pada kulit untuk melarutkan sel-sel kuli mati.

Selain mempercepat proses pengelupasan kulit, eksfoliasi juga memberikan manfaat lain. Kulit menjadi lebih cerah karena penumpukan sel kulit sudah dibersihkan dan aliran darah pada wajah menjadi lebih lancar. Tak ketinggalan, prosedur ini meningkatkan efektivitas perawatan kulit. Pasalnya, lapisan kulit lebih mudah ditembus oleh produk perawatan kulit sekaligus meningkatkan produksi kolagen, jika dilakukan dalam jangka panjang.

Untuk itu, eksfoliasi bisa menjadi perawatan untuk memulihkan kulit yang berjerawat dan kulit belang akibat paparan sinar matahari.

Semua manfaat eksfoliasi akan Anda dapatkan, asal…

Walaupun manfaatnya banyak dan umumnya mudah untuk dilakukan, Anda tetap harus berkonsultasi terlebih dahulu kepada dokter kulit. Sebab, eksfoliasi dengan cara kimia yang hasilnya lebih maksimal tetap berpotensi membuat kondisi kulit Anda lebih buruk, jika produk yang Anda pilih tidak sesuai. Jadi, Anda perlu memahami kondisi kulit dan pertimbangan kandungan produk yang tepat untuk kulit Anda.

Pada situs American Academy Dermatology, dr. Marry P. Luppo, FAAD, seorang profesor kesehatan kulit dari Tulane University of Medicine mengatakan bahwa orang dengan kondisi kulit khusus seperti kulit berjerawat atau rosacea harus konsultasi terlebih dahulu untuk melakukan eksfoliasi.

Orang yang memiliki kondisi pengelupasan yang lebih parah sehingga berisiko hiperpigemntasi postinflammatory (PIH) sebaiknya menghindari perawatan eksfoliasi. Jadi, tidak semua orang cocok melakukan eksfoliasi.

kulit kombinasi

Bagaimana cara melakukan eksfolisasi yang benar?

Agar proses menghilangkan sel kulit mati yang Anda lakukan berhasil maksimal, perhatikan langkah-langkahnya berikut ini.

1. Kenali jenis kulit Anda

Setiap orang memiliki jenis kulit yang berbeda. Jadi, penting bagi Anda untuk mengetahui jenis kulit sebelum melakukan perawatan kuit apa pun, termasuk eksfoliasi. Sebab, jenis kulit yang Anda miliki menjadi petunjuk perawatan mana yang sebaiknya Anda lakukan dan seberapa sering Anda melakukan perawatan.

2. Pilih produk perawatan yang tepat

Bila Anda memiliki kulit kering dan sensitif, pilih produk perawatan eksfoliasi yang lebih ringan kadar asam salisilat atau asam glikolatnya. Namun, bila jenis kulit lebih berminyak, pilih produk perawatan dengan kadar asam salisilatnya lebih besar, sekitar dua persen. Namun, jangan lebih dari itu. Anda bisa mendapatkan produk perawatan tersebut di apotek sesuai resep dokter kulit.

Hindari produk yang mengandung retinoid, retinol, atau benzoyl peroxide yang bisa mengurangi kelembapan kulit dan menyebabkan kulit kering berjerawat. Pastikan untuk selalu membersihkan scrub atau sikat sebelum dan sesudah pemakaian. Begitu juga dengan kebersihan handuk yang Anda gunakan.

3. Buat jadwal rutin

Seberapa sering Anda melakukan eksfoliasi harus disesuaikan dengan jenis kulit. Normalnya, eksfoliasi dilakukan setiap dua kali seminggu. Namun, untuk kulit berminyak, perawatan eksfoliasi dianjurkan lebih sering dilakukan. Kemudian untuk kulit sensitif, eksfoliasi lebih jarang untuk dilakukan, misalnya satu kali dalam seminggu.

Sementara itu, bila Anda melakukan eksfoliasi dengan prosedur mikrodermabrasi dari dokter, eksfoliasi dilakukan beberapa kali dalam beberapa minggu. Buat jadwal rutin untuk eksfoliasi, baik itu janji dengan dokter atau jadwal yang Anda buat sendiri bila dilakukan di rumah.

4. Pilih metode eksfoliasi yang sesuai

Untuk jenis kulit kering, sensitif, atau berjerawat dianjurkan memilih perawatan dengan kain lap dan eksfoliator kimia ringan. Sementara untuk kulit yang berminyak, plih produk perawatan kimia yang lebih kuat kadar asam salisilatnya serta bantuan scrub atau sikat wajah. Bila kulit Anda berjerawat dan terbakar matahari, pilih produk perawatan kimia dan scrub yang lebih ringan.

5. Lakukan eksfoliasi dengan benar dan hati-hati

Sebelum melakukan eksfoliasi, bersihkan wajah Anda terlebih dahulu. Kemudian, kembali basuh wajah dengan air hangat. Lalu, oleskan produk atau scrub pada kulit secara perlahan dengan gerakan melingkar. Lakukan hal tersebut selama 30 detik dan bilas dengan air hangat. Keringkan wajah dengan cara ditepuk-tepuk pelan menggunakan handuk kering. Kemudian, oleskan pelembap kulit secara merata agar kelembapan kulit tetap terjaga.

Baca Juga:

  • 5 Cara Merawat Kulit yang Mengelupas
  • Berbagai Cara Jitu Melindungi Kulit Bagian Luar dari Kerusakan
  • 3 Makanan yang Bisa Membuat Kulit Makin Berminyak

Sumber

4 Tanda Hubungan Seks Mulai Kandas Dalam Kehidupan Pernikahan Anda

4 Tanda Hubungan Seks Mulai Kandas Dalam Kehidupan Pernikahan Anda

Dalam kehidupan pernikahan, seks bukanlah segalanya. Namun, memiliki kehidupan seks yang sehat dan hebat berperan dalam kelanggengan pernikahan. Dikutip dari Huffington Post, ada berbagai masalah seks yang bisa menjadi tanda pernikahan akan berakhir dan tidak bertahan lama jika dibiarkan terus menerus dan tidak dicari solusinya. Berikut ini tanda kehidupan pernikahan terancam akibat hilangnya hubungan seks yang tak harmonis.

1. Tidak ada lagi ketertarikan fisik

masalah pernikahan

Moushomi Gouse, seorang terapis seks asal Amerika menyatakan bahwa hilangnya ketertarikan fisik di antara pasangan suami istri menjadi salah satu tanda penting pernikahan sedang berada di ujung tanduk.

Pasalnya, pasangan yang sudah tidak saling tertarik secara fisik biasanya akan kehilangan ketertarikan secara seksual. Hal ini dapat berlaku di kedua pihak atau bahkan hanya di salah satu pihak saja. Jika hal ini terjadi maka ada salah satu pihak yang merasa tidak diinginkan.

Akibatnya, keintiman di antara kedua pasangan yang seharusnya menjadi perekat rumah tangga perlahan menghilang dan bahkan bisa memudar jika dibiarkan terus menerus.

2. Tidak lagi berhubungan seks

hubungan suami istri terasa hambar

Seks dalam pernikahan membawa sederet manfaat dan keuntungan. Berhubungan seksual dengan pasangan dapat menambah tingkat komitmen dengan pasangan, membuat pasangan terhubung secara emosional, bahkan mengurangi stres. Untuk itu, jika dalam pernikahan Anda dan pasangan tidak lagi berhubungan seks, Anda perlu waspada karena ini bisa jadi tanda terancamnya kehidupan pernikahan.

Pasangan yang tidak lagi berhubungan seks akan merasa jauh dan bahkan benar-benar menjauhkan diri satu sama lain karena tidak ada ikatan emosional yang menguatkan di antara keduanya. Jika sudah begini, jangan anggap sepele karena akan berakibat buruk pada kehidupan pernikahan bila berlangsung dalam waktu yang lama.

Segera bicarakan baik-baik apa masalah yang mendasarinya dan pecahkan solusi secara bersama-sama tanpa meninggikan ego masing-masing.

3. Masalah kesehatan dijadikan alasan untuk menolak seks

gairah seks menurun

Tak jarang masalah kesehatan seperti ejakulasi dini, disfungsi ereksi, dan juga rasa sakit saat berhubungan seksual dijadikan alasan untuk menghindari seks. Rasa minder, malu, dan perasaan tidak diinginkan dapat menyelimuti pikiran pengidapnya. Masalah kesehatan yang dimiliki pasangan selalu dijadikan kambing hitam untuk terus-terusan menolak ajakan seks pasangan. Jika hal ini dibiarkan terus-terusan, pasangan Anda akan merasa jenuh dan merasa dihindari.

Untuk itu, jangan jadikan seks sebagai kambing hitam. Jika Anda mengalami masalah seks tertentu, cobalah untuk segera mengonsultasikannya ke dokter agar hal tersebut dapat segera ditangani dengan baik dan tidak merusak kehidupan rumah tangga Anda. Usahakan juga untuk membicarakan hal ini dengan pasangan secara terbuka dan mencari solusi terbaiknya.

4. Perbedaan keinginan dalam berhubungan seks

berhubungan intim setelah melahirkan

Jika Anda berada pada kondisi dimana pasangan menginginkan seks lebih banyak dari yang Anda inginkan, maka Anda perlu mewaspadainya. Meskipun terlihat sepele, tetapi hal ini bisa menimbulkan masalah besar bagi sebagian besar pasangan suami istri.

Menurut Megan Fleming, seorang psikolog dan ahli terapi seks di New York, pasangan yang keinginan seksnya lebih rendah memegang kendali atas kehidupan seks pasangannya. Jika hal ini dibiarkan dan tidak disadarinya, pasangannya yang memiliki nafsu seks lebih tinggi akan merasa kesal karena merasa diabaikan.

Bahkan dalam beberapa kasus, perbedaan ini berisiko pada perceraian. Hal ini dikarenakan pasangan yang memiliki nafsu lebih besar mungkin tidak bisa menerima kenyataan bahwa nafsu seksnya tidak dapat tersalurkan dengan baik.

Padahal jika dibicarakan baik-baik, hal ini dapat diatasi dan tidak sampai memicu perselisihan hebat. Tak hanya itu, perbedaan keinginan mengenai jenis seks yang diinginkan juga bisa menjadi permasalahan besar jika tidak dibicarakan.

Untuk itu, kunci penyelesaiannya yaitu mengutarakan keinginan masing-masing agar keinginan dan kebutuhan seksual Anda dan pasangan dapat terpenuhi secara adil.

Baca Juga:

  • Benarkah Tahun Pertama Pernikahan Adalah Masa Tersulit?
  • 7 Manfaat Mengikuti Konseling Pernikahan Sebelum Menikah
  • 7 Cara Mewujudkan Pernikahan Yang Sehat
  • Tahukah Anda Pernikahan dan Perceraian Dapat Menyebabkan Stroke?

Sumber

Normalkah Jika Puting Susu Saya Berwarna Hitam?

Normalkah Jika Puting Susu Saya Berwarna Hitam?

Tubuh akan terus berubah dari waktu ke waktu, tidak terkecuali juga payudara Anda. Payudara bisa berubah bentuk, ukuran, dan warna. Tak jarang beberapa orang memiliki puting susu yang berwarna hitam. Apakah ini normal? Apa yang menyebabkan puting susu hitam?

Apa yang menyebabkan puting susu hitam?

Puting susu itu sendiri tidak bisa berubah warna, areolalah yang bisa berubah warna. Areola adalah daerah kulit di sekitar puting yang berwarna gelap. Ada beberapa hal yang bisa membuat areola dan puting susu menghitam. Kebanyakan faktor penyebabnya adalah perubahan hormon tubuh.

Masa puber

Puber bisa membuat areola dan puting susu hitam karena di saat ini indung telur (ovarium) sudah mulai menghasilkan hormon estrogen. Kadar estrogen tinggi dalam tubuh akan membuat payudara bertumbuh dan puting susu terangkat. Areola juga akan lebih menggelap warnanya jika dibandingkan sebelum puber.

Menstruasi

Menjelang dan selama menstruasi, beberapa wanita mengeluhkan warna putingnya agak lebih gelap dari biasanya. Lagi-lagi, perubahan hormonlah yang bertanggung jawab atas hal ini. Ketika indung telur melepaskan sel-sel telur selama masa ovulasi, kadar estrogen dan progesteron dalam tubuh akan meningkat.

Minum pil KB

Pil KB mengandung hormon progestin, versi sintetis dari estrogen dan progesteron. Kedua hormon ini mengatur siklus menstruasi agar tidak terjadi kehamilan, dan cara kerjanya mirip dengan hormon alami yang ada di tubuh Anda.

Ini dapat menyebabkan daerah di sekitar puting menjadi lebih gelap, tetapi ini akan hilang setelah Anda berhenti minum pil KB. Selain itu, pil KB juga bisa menyebabkan melasma, yaitu timbulnya bercak cokelat atau abu-abu pada sekitar puting.

Kehamilan

Saat janin tumbuh di dalam rahim, payudara mulai memproduksi ASI untuk bayi yang akan lahir dengan menambah lebih banyak estrogen dan progesteron. Peningkatan hormon kehamilan ini membuat payudara jadi terasa sakit, bengkak, dan lebih sensitif. Areola juga menjadi lebih gelap.

Puting susu hitam selama hamil hanya bersifat sementara. Setelah kehamilan dan menyusui, warna puting susu Anda akan kembali seperti semula.

Menyusui

Sama halnya dengan kehamilan, perubahan hormon yang membantu produksi ASI juga cenderung menyebabkan perubahan warna puting susu Anda.

Selain itu, menurut para ilmuwan puting susu hitam juga dapat membantu bayi yang baru lahir untuk menemukan puting ibu untuk menyusui. Bayi yang baru lahir belum memiliki penglihatan yang baik, tapi sebagian besar bayi dapat membedakan antara gelap dan terang.

Warna puting susu akan kembali seperti sebelumnya seiring waktu, setelah masa menyusui selesai.

Rambut di sekitar puting

Beberapa wanita mungkin memiliki rambut-rambut halus yang tumbuh di sekitar puting susunya. Rambut halus ini mungkin lebih gelap dari sebagian rambut lainnya pada tubuh Anda.

Tumbuhnya rambut halus yang gelap bisa membuat puting susu terlihat lebih gelap, apalagi jika rambut tumbuh dekat puting susu.

Kanker

Penyakit Paget adalah jenis kanker payudara langka yang perkembangannya dimulai di daerah puting. Gejala awal penyakit Paget termasuk puting susu hitam, puting susu menjadi pipih, kulit sekitar puting mengelupas atau berkerak, dan gatal serta kesemutan di sekitar puting.

Umumnya, penyakit ini bisa terjadi pada semua orang setelah pubertas. Namun, ini lebih sering terjadi pada orang dewasa yang lebih tua. Jika Anda memiliki tanda atau gejala tersebut, segera konsultasikan dengan dokter.

Diabetes

Puting susu hitam bisa jadi kemungkinan gejala diabetes, sebagai respon tubuh terhadap resistensi insulin. Perubahan warna kulit ini secara khusus disebut acanthosis nigricans, dan sering terjadi di lipatan kulit sekitar ketiak, selangkangan, leher, dan anggota badan. Areola dapat menjadi lebih gelap dan membentuk luka atau plak.

Tidak ada perawatan khusus untuk gejala ini. Namun, menjaga kadar gula darah tetap normal dapat membantu kulit Anda kembali ke warna dan tekstur yang normal.

Baca Juga:

  • Puting Susu Sakit Saat Menyusui? Coba Kompres Pakai Cara Mudah Ini
  • Mengenal 8 Jenis Puting Susu: Anda yang Mana?
  • Mengatasi Puting Susu Lecet Pada Ibu Menyusui

Sumber

Mengulik Impaksi Gigi, Masalah Pertumbuhan Gigi Geraham Bungsu

Mengulik Impaksi Gigi, Masalah Pertumbuhan Gigi Geraham Bungsu

Pernahkah Anda merasakan adanya pertumbuhan gigi, padahal sudah bukan masanya lagi Anda tumbuh gigi? Jika ya, ini artinya gigi yang tumbuh adalah gigi geraham bungsu Anda. Sebagian orang yang mengalami pertumbuhan gigi ini, merasakan rasa sakit yang cukup mengganggu. Kondisi ini kemudian dikenal dengan nama impaksi gigi. Lantas, apa yang menjadi penyebab terjadinya impaksi gigi? Apakah ini berbahaya?

Apa itu impaksi gigi?

Susunan gigi manusia lengkap, umumnya memiliki dua buah gigi geraham. Saat seseorang memasuki usia 17 sampai 25 tahun, biasanya akan mulai tumbuh gigi geraham ke tiga, atau yang biasa disebut sebagai gigi geraham bungsu. Selayaknya pertumbuhan gigi yang normal, gigi geraham bungsu seharusnya tumbuh lurus ke atas sejajar dengan gigi lainnya.

impaksi gigi

Namun, gigi ini bisa saja tumbuh ke arah yang salah, misalnya ketika terjebak di dalam gusi atau mengarah ke gigi di sebelahnya (lihat gambar di atas). Nah, kondisi ini yang kemudian dikenal dengan nama impaksi gigi.

Apa penyebab impaksi gigi?

Impaksi gigi bisa terjadi ketika tidak ada ruang yang memadai bagi gigi geraham bungsu untuk tumbuh dengan baik. Sebagian orang mengalami impaksi gigi karena rahangnya berukuran kecil, sementara ukuran gigi yang tumbuh cukup besar.

Hal inilah yang kemudian menyebabkan gigi geraham bungsu terjebak dan tidak bisa keluar dari dalam gusi. Ada juga yang menderita impaksi gigi akibat tidak ada ruang yang tersisa, sehingga menyebabkan gigi tumbuh ke arah yang salah.

Pertumbuhan gigi geraham bungsu yang salah bisa mengarah ke gigi geraham sebelahnya (gigi molar); ke arah belakang mulut; tumbuh miring seolah seperti “berbaring” pada gusi; atau tumbuh normal lurus ke atas, tapi terperangkap di dalam gusi, tidak timbul ke permukaan seperti gigi lainnya.

Apa gejala yang ditimbulkan dari impaksi gigi?

Sebagian besar kasus impaksi gigi bisa sangat menyiksa, sebab rasa sakit yang ditimbulkan biasanya akan berlangsung cukup lama dan mengganggu. Apalagi ketika Anda mengunyah makanan. Pertumbuhan gigi geraham bungsu yang tidak normal bisa Anda curigai dengan munculnya gejala seperti:

  • Terasa sakit di area sekitar rahang
  • Muncul pembengkakan di area gigi yang sakit
  • Rasa tidak nyaman saat mengunyah makanan
  • Bau mulut
  • Kesulitan saat membuka mulut
  • Gusi berdarah

Jika Anda mengalami kondisi ini, sebaiknya periksakan lebih lanjut dengan dokter gigi Anda.

periksa gigi sebelum hamil

Mungkinkah impaksi gigi menimbulkan komplikasi?

Impaksi gigi mungkin saja menimbulkan masalah lainnya pada mulut Anda, seperti:

1. Kerusakan pada gigi lain

Jika gigi geraham bungsu salah tumbuh sehingga mendorong gigi geraham sebelahnya, maka akan menyebabkan infeksi di area gigi tersebut. Anda perlu perawatan lebih lanjut ke dokter gigi untuk mengobatinya.

2. Karies gigi

Gigi geraham bungsu yang mengalami impaksi bisa memicu timbulnya risiko karies gigi. Sebab, gigi bungsu ini akan lebih sulit dibersihkan sehingga mudah menumpuk, dan menyebabkan kerusakan gigi.

3. Penyakit gusi

Pertumbuhan gigi geraham bungsu yang salah akan mengganggu jaringan gusi di sekitar gigi bungsu. Pada akhirnya, bisa berpotensi mengakibatkan infeksi dan pembengkakan. Kondisi ini disebut perikoronitis.

Bagaimana cara menangani gigi geraham bungsu yang salah tumbuh?

Mulanya, dokter gigi akan mendiagnosis adanya impaksi gigi pada pertumbuhan gigi geraham bungsu, melalui pengecekan dengan foto rontgen atau sinar-X. Rontgen berguna untuk menunjukkan jika ada masalah pada rahang, gigi, gusi, serta area lain dalam struktur gigi Anda.

Bila ditemukan adanya pertumbuhan gigi yang tidak normal seperti impaksi gigi, dokter gigi akan melakukan tindakan lebih lanjut.

Pada dasarnya, gigi geraham bungsu yang tumbuh adalah hal normal. Bila gigi bisa tumbuh sempurna seperti deretan gigi yang lainnya, maka tidak perlu dilakukan tindakan apa pun. Namun, jika pertumbuhan gigi geraham bungsu tidak normal sehingga menyebabkan impaksi gigi, maka harus segera diberikan penanganan yang tepat.

Biasanya, dokter gigi atau ahli bedah mulut akan menyarankan Anda untuk melakukan pencabutan gigi dengan prosedur pembedahan, yang disebut dengan operasi odontektomi. Operasi ini biasanya tidak akan berlangsung lama, sekitar 30-60 menit, atau tergantung kesulitan proses operasi.

Tak perlu khawatir akan rasa sakit yang ditimbulkan selama operasi, sebab dokter akan menyuntikkan obat bius sebelum melakukan operasi.

Baca Juga:

  • Buka Mulut Lebar-Lebar! Yuk, Pelajari Struktur dan Anatomi Mulut Manusia
  • Benarkah Memutihkan Gigi Bisa Bikin Gigi Jadi Sensitif?
  • Mengapa Anak Saya Belum Tumbuh Gigi?

Sumber

Kaki Suka Tiba-tiba Kram Saat Tidur Malam, Apa Penyebabnya? (Plus, Cara Mengatasinya)

Kaki Suka Tiba-tiba Kram Saat Tidur Malam, Apa Penyebabnya? (Plus, Cara Mengatasinya)

Jika belakangan ini Anda sering terbangun tengah malam karena tiba-tiba merasa kaki kram saat tidur, mungkin penyebabnya adalah nocturnal leg cramps. Kenapa Anda bisa mengalaminya, dan bahayakah kondisi ini? Yuk, simak ulasan lengkapnya di bawah ini.

Nocturnal leg cramps, fenomena kaki kram saat tidur malam

Siapa saja bisa mengalami kram kaki saat tidur, meski lebih umum terjadi pada orang-orang lansia. Kram biasanya menyerang otot betis atau otot paha, atau malah di sekujur kaki. Bisa salah satu atau kedua sisi kaki.

Sensasi kaki kram akibat nocturnal leg cramps bisa terasa sangat menyakitkan dan berlangsung hingga beberapa menit sehingga membangunkan Anda dari tidur. Rata-rata orang bisa mengalami kram hingga 9 menit. Namun, kram bisa juga sudah terjadi sebelum Anda pergi tidur.

Rasa nyeri akibat kram tersebut bisa berangsur hilang dengan sendirinya. Meski begitu, pada beberapa kasus kram betis bisa meninggalkan sensasi pegal hingga 24 jam ke depan.

Kram kaki saat tidur beda dengan restless legs syndrome

Keduanya ini sering tertukar karena keduanya sama-sama terjadi di malam hari, tapi kram kaki dan restless leg syndrome (RLS) adalah dua kondisi berbeda.

Sensasi tidak nyaman yang terjadi di kaki akibat RLS tidak menyebabkan rasa sakit atau kram, hanya sekadar timbul keinginan untuk menggerakkan kaki supaya sensasi tersebut hilang. Ketidaknyamanan itu bisa kembali lagi ketika gerakannya berhenti.

Sementara itu, kram kaki akibat nocturnal leg cramps terjadi akibat otot kaki yang tiba-tiba menegang sehingga menimbulkan nyeri luar biasa. Ketegangan otot ini biasanya terjadi pada saat kaki beristirahat.

Apa penyebab dari kram kaki di malam hari?

Penyebab kram kaki saat tidur tidak diketahui pasti, tetapi beberapa kasus memiliki kaitan dengan;

  • Duduk dalam jangka waktu yang sangat lama
  • Otot yang digunakan secara berlebihan saat beraktivitas, misalnya olahraga terlalu berat
  • Terlalu lama berdiri
  • Posisi duduk yang tidak benar

Secara umum, kram kaki di malam hari berkaitan dengan kelelahan otot dan masalah saraf kaki. Dilansir dari laman Medical News Today, kram kaki lebih sering terjadi di era modern ini karena orang-orang sudah semakin jarang berjongkok, posisi yang bisa meregangkan otot betis.

Kaki kram di malam hari juga bisa berkaitan dengan beberapa kondisi medis di bawah ini:

  • Kehamilan
  • Peminum alkohol
  • Orang yang dehidrasi
  • Penyakit Parkinson
  • Gangguan saraf
  • Orang dengan telapak kaki rata
  • Orang yang mengalami gangguan sistem endokrin (contoh, diabetes, atau hipotiroidisme)
  • Sedang melakukan perawatan kanker
  • Mengalami penyakit ginjal kronis

Apa yang harus dilakukan saat kram kaki itu mendadak terjadi?

  • Memijat otot yang kaku dengan tangan atau mengompres dingin dengan es.
  • Lakukan peregangan otot.
  • Bangkit dari tempat tidur dan perlahan gerakan kaki dengan berjalan.
  • Mandi air hangat atau rendam betis yang kram dengan air.

Jika kram terus terjadi meski Anda sudah melakukan berbagai cara di atas ditambah dengan keluhan sulit tidur, sebaiknya periksakan diri ke dokter. Kurang tidur akibat kaki kram juga akhirnya dapat memengaruhi aktivitas Anda di siang hari

Apa yang bisa dilakukan untuk mencegah kaki kram saat tidur?

  • Minum banyak cairan untuk menghindari dehidrasi, setidaknya 8 gelas per hari.
  • Lakukan peregangan ringan untuk melemaskan otot kaki selama beberapa menit sebelum Anda pergi tidur.
  • Lepaskan selimut/bed cover yang menutupi kaki Anda
  • Pakai sepatu yang pas dan nyaman saat beraktivitas.
  • Olahraga secara rutin, tapi jangan memaksakan tubuh berolahraga terlalu berat dalam jangka waktu lama. Selalu lakukan pemanasan saat memulai olahraga dan pendinginan setelahnya.

Baca Juga:

  • Mencegah dan Mengatasi Kram Kaki Saat Berlari
  • Otot Anda Kram Setiap Cuaca Dingin? Ini yang Terjadi
  • Kaki Kram Terus? Mungkin Anda Kekurangan 6 Nutrisi Penting Ini

Sumber

Berbagai Risiko Efek Samping Bius Total yang Penting Diketahui

Berbagai Risiko Efek Samping Bius Total yang Penting Diketahui

Sebelum menjalani operasi besar, misalnya bypass jantung, Anda akan lebih dulu dibius total. Tujuannya adalah untuk membuat Anda tidak sadarkan diri, tidak bergerak, dan tidak merasakan sakit sama sekali agar prosedur tersebut berjalan lancar. Bius total, atau yang sering disebut anestesi umum, biasanya disuntikkan ke pembuluh darah atau dihirup lewat hidung dengan memakai masker khusus. rosedur bius total umumnya aman. Meski begitu, tetap ada risiko berbagai efek samping bius total terjadi setelah Anda sadar. Apa saja?

Berbagai efek samping bius total yang mungkin terjadi

Sebagian besar efek samping bius total akan Anda rasakan ketika sudah terbangun dari tidur. Efek samping bius biasanya bersifat ringan dan sementara, terjadi dalam waktu yang cukup singkat.

Berikut berbagai efek samping bius total yang mungkin terjadi, yaitu:

Merasa bingung, linglung

Anda akan merasa kebingungan dan linglung begitu pertama kali tersadar setelah dibius. Ini disebabkan oleh obat bius yang bekerja menghambat aktivitas otak yang bertanggung jawab terhadap kesadaran dan respon tubuh terhadap rasa sakit. Selain itu, Anda juga akan merasa ngantuk dan mengeluhkan pandangan kabur.

Kondisi ini biasanya berlangsung selama beberapa jam. Akan tetapi, efek samping ini bisa berlangsung berhari-hari hingga berminggu-minggu pada orang lanjut usia.

Nyeri otot

Obat-obatan yang digunakan untuk melemaskan otot selama operasi dapat menyebabkan otot terasa nyeri saat bangun. Biasanya kondisi tidak akan berlangsung terlalu lama. Namun, jika nyeri memburuk Anda bisa segera menghubungi dokter untuk mengetahui penyebab pastinya.

Mual dan muntah

Efek samping bius total yang satu ini biasanya terjadi untuk mencegah gerakan otot selama operasi. Mual dan muntah biasanya terjadi saat Anda terbangun setelah operasi dan bisa berlangsung selama 1 hingga 2 hari.

Menggigil

Obat-obatan bius total bisa mengacaukan kerja termometer alami tubuh sehingga menyebabkan suhu tubuh menurun. Selain itu, ruang operasi yang dingin juga ikut menyebabkan suhu tubuh makin menurun. Maka, tak jarang Anda akan menggigil setelah bangun dari operasi.

Sembelit dan retensi urin

Efek samping beberapa jenis obat bius memperlambat gerakan otot, termasuk otot-otot di saluran cerna dan saluran kemih untuk mengeluarkan limbah.

Karena itu, obat ini bisa menyebabkan sembelit dan kencing tidak tuntas (retensi urin) setelah operasi. Anda mungkin juga merasa kesulitan untuk buang air kecil.

Sakit tenggorokan atau suara serak

Tabung yang dimasukkan ke tenggorokan selama proses operasi untuk membantu Anda bernapas dapat membuat tenggorokan Anda terasa sakit saat terbangun.

Pusing

Rasa pusing akan menyerang saat Anda berdiri untuk pertama kalinya setelah pulih dari operasi. Minum cukup banyak air bisa membantu mengatasi rasa pusing yang Anda alami.

Gatal

Jika dokter menggunakan obat bius golongan opiat (opium/opioid), kemungkinan besar Anda akan merasakan gatal di beberapa bagian tubuh sebagai efek obat tersebut.

Faktor risiko yang dapat meningkatkan efek samping bius total

Berikut ini beberapa kondisi yang dapat meningkatkan risiko terjadinya efek samping saat menjalani anestesi umum, yaitu:

  • Orang yang mengalami sleep apnea (henti napas saat tidur).
  • Kejang.
  • Masalah pada jantung, ginjal, dan paru-paru.
  • Tekanan darah tinggi.
  • Pecandu alkohol.
  • Merokok.
  • Memiliki riwayat buruk pada obat-obatan anestesi.
  • Alergi obat
  • Diabetes
  • Obesitas

Biasanya, orang lansia lebih berisiko mengalami efek samping bius total dalam jangka waktu lebih lama dibandingkan dengan orang yang lebih muda.

Jangan sungkan untuk menanyakan efek samping dan risiko yang mungkin terjadi selama dan setelah pembiusan. Selain itu, usahakan untuk mengikuti berbagai petunjuk yang diberikan dokter sebelum operasi berlangsung, termasuk makanan dan obat-obatan yang perlu dihindari. Dengan mematuhi semua petunjuk dokter, Anda dapat menekan risiko terjadinya efek samping dari bius total.

Baca Juga:

  • Bius Total Saat Operasi Pada Lansia Meningkatkan Risiko Penyakit Alzheimer
  • Setelah Operasi, Berapa Lama Efek Obat Bius Bertahan?
  • Efek Samping dan Komplikasi yang Mungkin Timbul Dari Obat Anestesi

Sumber